Blog Pribadi San-San

  • home
  • About Me
  • Facebook
  • Sitemap
  • Twitter
  • Kemudian
  • Wattpad
  • Word Counter
Tampilkan postingan dengan label apocalypt. Tampilkan semua postingan

Jakarta After Doomsday [Part 6 : Last Message from My Brothers]

"Hei, bisa kau ceritakan kisahmu sampai ketika kau bersembunyi di rumah sakit yang semalam itu?"
Aku tidak tahu harus bicara apa pada Arini. Ingin sekali kukatakan padanya kalau sebenarnya aku sudah dihukum mati lima tahun lalu karena telah membantai delapan orang bocah SMA yang telah memperkosa adik perempuanku hingga tewas. Tidak, aku tidak akan mengatakan hal itu, aku terpaksa harus berbohong untuk saat ini sampai aku merasa semua yang kualami ini sudah jelas. Aku tidak mau Arini merasa curiga denganku padahal aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa aku hidup lagi setelah sebelumnya aku dihukum mati.

"Aku dirawat di RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo, hal terakhir yang kuingat adalah salah satu dokter mengatakan kalau aku mengalami gegar otak pasca kecelakaan. Setelah dioperasi pun aku masih mengalami koma dan saat aku sudah merasa membaik dan mulai terjaga, aku berusaha minta bantuan suster untuk membersihkan diri. Namun tidak ada satupun dari mereka yang datang, jadi aku berkeliling koridor demi koridor lalu kemudian keluar dari gedung rumah sakit. Ternyata keadaan diluar sudah jadi seperti ini."

"Kau beruntung bisa selamat dan berhasil melewati 12 April dengan aman" Arini sedikit tersenyum padaku.
"Mungkin 12 April itu sudah berlalu, tapi kita tetap masih belum aman kan" aku mencoba mengingatkannya lagi soal yacd itu.
"Ya memang belum, itu sebabnya kita harus mengungsi ke Aceh secepatnya"
"Kenapa harus Aceh?"
"Ada tujuh provinsi besar yang saat ini digunakan sebagai wilayah tempat tinggal sementara untuk para koloni pengungsi. Aceh adalah salah satunya yang terdekat dari sini."
"Tidak bisakah kita tetap di Pulau Jawa"
"Tidak jika kau masih mau hidup, Pulau Jawa adalah sarangnya para yacd. dan Jakarta adalah wilayah dengan populasi yacd terbanyak. Aku tidak tahu denganmu tapi yang jelas aku dan para anggota keluarga lainnya tidak bisa berlama-lama tinggal di provinsi besar yang sekarang sudah terlalu berbahaya untuk dihuni ini."

Aku menghela nafas. Ternyata banyak yang sudah kulewatkan sejak aku masih di rumah sakit itu. Aku mulai putus asa untuk mencari dua saudaraku. Apalagi Arini bilang kalau Jakarta adalah area yang paling banyak yacd-nya. Di satu sisi aku masih mau berada disini untuk mencari Asyam dan Fajrin, tapi disisi lain aku juga ingin bisa pergi ke Aceh sekalian untuk mencari tahu apa yang salah dengan tubuhku ini.

"Sudah jam setengah sembilan malam, sebaiknya kau tidur sekarang. Kalau mau sholat tahajud tengah malam nanti, jangan lupa minta bantuan siapa saja untuk mengawasimu didalam masjid" Arini meninggalkanku kembali ke truknya. Salah-satu rekannya yang masih memegang senjata mulai mendekatiku.
"Tunggu, tahajud?" aku sedikit mengerutkan dahiku.
"Iya tahajud kau tau, sholat malam yang biasa dilakukan ketika kau terjaga dimalam hari?"
Agak malu rasanya saat aku mengatakan kalimat ini "entahlah, aku belum pernah sholat tahajud sebelumnya"
"Jangan khawatir, Ilham akan membantumu" ujarnya sambil berlalu meninggalkanku. Aku hanya melongo menatap pria muda bernama Ilham disampingku ini.

"Kau boleh tidur sekarang kalau kau mau, nanti aku akan membangunkanmu saat tengah malam" ujarnya dengan senyuman ramah.
"Ehh sebenarnya aku belum begitu mengantuk. Tapi aku ingin sekali membaca isi buku ini" ujarku sambil memperlihatkan kotak yang kutemukan.
"Baiklah silahkan" ujarnya sambil memanaskan isi kalengnya kedekat api unggun sementara aku menjauh dan naik ke atas atap salah satu truk.

Perlahan tetapi pasti, keadaan disekitar api unggun mulai sepi. Seluruh anggota keluarga dari orang-orang Bandung ini satu per satu masuk kedalam truk mereka masing-masing. Aku langsung naik ke bagian atap truk milik Arini karena memang semua truk sudah penuh dan tidak ada tempat sepi yang cocok untuk kupakai sendiri selain atapi truk ini. Akhirnya, sekarang aku tinggal memeriksa isi dari buku didalam kotak ini. Aku membacanya lembar demi lembar, kurasa ini cuma buku diary biasa. Isinya hanya aktifitas harian yang dilakukan Asyam tiap harinya. Salah satu dari lembaran ini menceritakan tentang saat-saat ketika aku dieksekusi mati hingga ketika mereka selesai memakamkanku. Selebihnya hanya aktifitas biasa. Saat aku mulai bosan membaca buku ini, aku melihat beberapa lembaran yang menarik perhatianku karena dilihat dari tanggal penulisannya, lembaran ini ditulis beberapa minggu setelah kejadian 12 April.

2 Mei 2027
Aku bersama Fajrin berhasil menyelamatkan diri disebuah bunker yang ternyata lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami bersama teman-temanku yang mana orang tua mereka bekerja sebagai tentara dan mereka tahu lokasi dari bunker itu dan berhasil menemukan cara untuk berlindung didalamnya. Awalnya mereka sempat menolak untuk mengajak kami berdua namun pada akhirnya mereka mengizinkan kami untuk ikut berlindung bersama mereka. Walaupun sebenarnya nasib orang tua kami tidak seberuntung nasib kami. Setelah bertanya pada salah satu dari tentara disini, mereka memberikan informasi yang membuatku terperanjat. Ternyata ada tujuh negara didunia yang sudah memprediksi kapan terjadinya hari paling mengerikan itu. Sayangnya Indonesia bukan salah satunya. Itupun tentara disini mengetahuinya setelah mendapat bocoran dari rekan-rekan mereka yang bertugas di San Marino. Salah satu dari tujuh negara yang dimaksud. Mereka sengaja menyembunyikan informasi ini dari publik untuk maksud tertentu dan mereka berdalih hanya untuk menghindari kepanikan masal. Kulihat saat ini Fajrin mencoba mencari tahu soal hal ini, tidak banyak yang kuketahui sehingga aku tidak bisa berbuat banyak untuk menolongnya. Dan entah kenapa, disaat seperti ini aku malah merindukan Isa yang saat ini sudah tenang di alam sana. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami berikutnya, karena yang pasti saat ini aku, Fajrin dan yang lainnya akan mengadakan perjalanan ke Aceh. Entahlah aku bahkan tidak tahu kenapa kami kesana. Yang pasti sebelum kami pergi, aku putuskan untuk meninggalkan buku ini didalam kotak. Mungkin suatu hari nanti akan ada orang yang akan menemukannya dan membacanya. Ini adalah catatan terakhirku karena beberapa hari kedepan aku akan menulis catatan baru, termasuk membeberkan sebuah file 'top secret' bernama LOTS PROJECT.

Lost Project, apa lagi itu? aku mencoba mencari berkas lainnya yang ada kaitannya dengan lost project ini namun hal terakhir yang kutemukan hanyalah beberapa kertas yang masih kosong tanpa tulisan sedikitpun.

Setelah puas tertidur beberapa saat, kuputuskan untuk melaksanakan ibadah sholat tahajud. Dengan bantuan dari Ilham aku mulai mempelajari ibadah sunah yang satu ini. Kini kuketahui bahwa ibadah ini adalah jenis sholat yang bisa dilakukan sebanyak maksimal delapan rakaat dan sekali salam tiap dua rakaatnya. Setelah selesai aku tinggal menunggu saat menjelang subuh untuk melaksanakan ibadah wajib yaitu sholat subuh. Aku merasa terkesan dengan orang-orang ini yang masih sempat untuk mendekatkan diri pada Tuhan ditengah keadaan yang serba tidak pasti dan tentunya dekat dengan maut.

***

"Incomiiinnggg !!!!!!"
Aku agak tersentak mendengat teriakan dari arah luar masjid ketika kami masih ada didalam untuk membaca Dzikir Almatsurat di pagi hari. Hingga diluar sana mulai terdengar suara letusan senjata. Kami mulai berhamburan mendekati sumber suara teriakan itu sambil membawa senjata masing masing.
"Hey ada apa?" ujarku pada salah satu anggota yang tengah berjaga diluar masjid.
"50 yacd yang datang dari arah selatan !!!" mendengar kalimat itu, regu lainnya mulai menyambar senjata masing-masing. Kulihat disana Arini mulai mendekatiku.
"Kau bisa pakai ini?" tanyanya sambil melempari sebuah M4 Carbine kearahku.
"Akan kucoba"
"Shotgun ada didalam truk senjata jika kau mau ganti senjata" ujarnya sambil mulai menembak.

Suara rentetan senjata dan desingan peluru mulai membahana menghiasi suasana pagi yang dingin dan kelam ini. Baru pukul setengah enam pagi sudah seperti ini saja, untungnya semua anggota keluarga sudah bangun sejak beberapa jam lalu. Kami masih sibuk menembaki monster-monster ini ketika kulihat dikejauhan sana puluhan yacd lainnya mulai mendekat.
"Gunakan senjata berat jika memungkinkan!!!" teriak Kevin pada yang lainnya.
Beberapa saat kami kewalahan hingga terjadi sesuatu yang cukup mengejutkan. Salah satu dari yacd itu menyeret Balqis menjauh dari kami semua.

Jakarta After Doomsday [Part 5 : Arini Siregar. After April 12th]

"Baik, kita sudah sampai di Masjid Istiqlal. Periksa setiap sudut Masjid itu lalu pastikan kalau disana aman, lalu biarkan para keluarga untuk beribadah lebih dulu. Bentuk empat kelompok untuk berjaga-jaga di tiap sudut" Arini memberikan instruksi pada rekan-rekannya yang membawa senjata untuk mulai bersiap-siap sementara Arini sendiri masih kebingungan dengan keberadaanku bersama Balqis. Satu per satu anggota keluarga mulai keluar dari truk mereka masing-masing untuk beribadah secara berjamaah sementara yang sedang berjaga harus menunggu giliran.

***

Menjelang magrib, aku dan Balqis tiba di Masjid Istiqlal. Terlihat disana para anggota konvoi yang membawa senjata tengah berjaga di empat sudut masjid yang berbeda. Arini sendiri datang menghampiri kami setelah sebagian anggota keluarga sudah selesai beribadah.

"Jadi bagaimana? sudah temukan yang kau cari?" Arini agak bingung saat melihatku membawa sebuah kotak.
"Mereka tidak ada disana, aku tidak tahu harus cari mereka dimana lagi"
"Berpikirlah dengan positif, aku yakin suatu hari nanti kalian akan bertemu kembali"
"Ya, aku harap juga begitu dan ngomong-ngomong terima kasih sudah meminjamkan motormu padaku" aku menyerahkan kunci ini pada Arini dan dia pun tersenyum padaku kemudian berlalu meninggalkanku kembali ke truknya.
"Arini" gadis itu masih sempat menoleh saat aku memanggilnya.
"Ada apa?" mendengar balasannya, aku memberitahu namaku padanya.
"Ngomong-ngomong namaku Isa"
"Oke Isa, senang berkenalan denganmu. Silahkan jika kau ingin sholat" ujarnya sambil menunjuk kearah masjid itu.

Malam hari telah tiba dan kami semua berkumpul mengelilingi sebuah api unggun sambil menikmati makanan kaleng yang sebelumnya sudah dibagi-bagikan untuk kami semua disini. Aku merasa agak kasihan juga pada mereka yang rela hanya memakan makanan kaleng yang sudah kadaluarsa demi bisa terus berjuang untuk tiba di Aceh. Sementara aku ... entahlah, mungkin soal waktu sebelum aku akan mati lagi untuk yang kedua kalinya.
"Hey makanlah, kau pasti lapar setelah belasan jam tidak memakan sesuatu" Arini datang menghampiriku yang masih duduk terpaku menatap api unggun tanpa sedikitpun membuka kaleng yang ada ditanganku. Sesaat terdiam hingga dia kembali melanjutkan ucapannya.
"Memikirkan sesuatu selain kedua saudaramu itu?"
Aku hanya terdiam dan masih menatap api unggun itu dengan tatapan mata kosong. Hingga kemudian aku memberanikan diri untuk bicara walaupun dengan suara yang serak.
"Bagaimana kau bisa sampai kesini, apa yang terjadi saat itu?"
Saat itulah Arini menceritakan semuanya dengan lengkap dan juga dengan suara serak sepertiku.

"Empat bulan setelah kejadian 12 April tahun lalu, aku berhasil bertahan hidup setelah sebelumnya berhasil melewati bencana itu dengan bersembunyi di Sanghyang Tikoro, salah satu gua yang jarang dikunjungi wisatawan waktu itu. Saat itu aku kelaparan, tidak ada apapun yang kutemukan yang sekiranya bisa kumakan. Setelah kurasa keadaan sudah mulai aman, aku keluar dari gua itu, kulihat sekelilingku semua hutan, bangunan, fasilitas perkotaan, semua yang kulewati, semuanya sudah tinggal reruntuhan dan semua hutan sudah menjadi gurun. Aku berjalan selama berhari-hari berharap bisa menemukan siapapun namun karena putus asa aku terjatuh dan kemudian pingsan, hal terakhir yang kubayangkan saat itu hanyalah suara gemuruh dan bebatuan yang bergetar saat aku masih didalam gua dan suhu dingin yang tiba-tiba memanas didalam sana. Tadinya kukira aku akan mati didalam gua itu hingga kusadari kalau sebenarnya aku akan mati ditengah jalan ini karena kelaparan."

Aku kini sibuk membuka kaleng ini sambil kembali mendengarkan cerita Arini.
"Saat aku siap unuk kematianku, ternyata aku hanya pingsan. Dan saat kubuka mataku, aku sudah berada didalam sebuah rumah. Tepatnya diwilayah Perumahan Eastern Hills Regency dan disana pula aku berkenalan dengan Pak Bunawar, orang yang sudah menyelamatkanku waktu itu. Dia adalah salah satu orang penting di bandung saat itu. Kota Bandung sendiri dan sekitarnya saat itu sudah dilapisi dinding. Setelah kondisiku mulai membaik aku diperkenalkan dengan anaknya Pak Bunawar, Balqis. Kami sering bermain bersama dari satu area ke area lainnya bahkan hingga ke alun-alun kota"

Aku mulai menyela setelah aku berhasil membuka kalengku dan menenggak kolak basi didalamnya.
"Jika keadaan disana sudah cukup aman, kenapa kalian memutuskan untuk pergi?"

"Waktu itu aku pernah dengar semacam urban legend tentang sekumpulan makhluk berwujud manusia namun sekujur tubuhnya memerah. Berjalan sempoyongan dan menghabisi siapa saja didekatnya, sebagian orang percaya bahwa makhluk itu memang ada. Aku hanya menganggapnya sebagai cerita hantu biasa dan tidak begitu peduli, hingga beberapa bulan kemudian beredar berita bahwa 7 orang tentara yang berjaga disana tewas diserang sekawanan makhluk buas. Saat itulah isu seputar makhluk merah itu mulai merebak kembali diantara para warga. Malam hari dihari ketiga setelah berita itu beredar, aku dan Balqis baru pulang dari bermain, aku merasa curiga dengan keadaan tempat kami tinggal yang sunyi senyap secara tidak wajar. Aku menemukan pesan di pintu rumah yang bertuliskan "segera temui kami di alun-alun kota, ini darurat". Balqis menjerit saat melihat ada tiga orang berkulit merah tengah asik mengunyah beramai ramai tetangga kami. Aku menyerang tiga orang itu dengan peralatan seadanya, walaupun aku juga dibuat terkejut dengan tampang wajah mereka yang terlihat benar-benar menyerupai zombie"

"Aku membawa balqis ke alamat yang tertera di pesan itu. Kulihat disana orang-orang tengah berkumpul dengan ramainya. Dikatakan oleh salah satu dari mereka bahwa semua penduduk akan dievakuasi ke kota-kota besar yang lebih aman. Namun saat kami semua mendengar kabar bahwa dinding bagian timur telah hancur dan telah dimasuki sekawanan makhluk merah itu, para tentara malah pergi begitu saja meninggalkan para penduduk yang kepanikan, berlari kesana kemari mencari cara untuk bisa pergi dari wilayah yang terisolasi itu. Aku dan Balqis sendiri masih berusaha mencari Pak Bunawar namun sia-sia."

"Aku dan balqis berjalan menjauh dan mencari tumpangan pada siapapun yang kami temui. Namun tidak ada yang mau mengajak kami bersama mereka. Pagi harinya setelah berjalan jauh kami bertemu dengan puluhan orang di pinggir jalan yang kebingungan mencari jalan untuk keluar dari kota. Ada dari mereka yang mencoba mencari anggota keluarga mereka yang masih tertinggal dan ada juga yang masih sibuk berdiskusi mencari jalan lain untuk pergi keluar kota. Saat aku mencoba berkeliling melihat sekitar, ternyata belasan makhluk merah itu datang lagi mencoba mendekati kerumunan. Para kerumunan mulai berlarian dengan panik sementara aku sendiri berhasil merampas sebuah motor dan bersama Balqis aku berjalan meninggalkan kerumunan itu."

"Jadi, kawanan yacd ini sudah menguasai setengah dari seisi bagian dalam dinding?"
"Ya begitulah. Aku dan Balqis tiba di sebuah tempat parkiran yang dulu sering digunakan untuk pemberhentian bagi para supir truk, disana aku bertemu dengan beberapa temanku salah satunya Kevin."
"Kevin? Kevin yang mana?"
"Dia disana" Arini menunjuk kearah pria negro yang tadi sempat mengomeliku. Si negro itu sendiri masih sibuk mengunyah isi kalengnya.
"Begitu ya, lalu apa yang kalian lakukan berikutnya?"
"Kami putuskan untuk keluar dari dinding menuju Bandara Soekarno Hatta karena Kevin bilang hanya itu satu-satunya bandara yang masih menyimpan pesawat yang bisa dipakai. Kami mencuri belasan truk dan kendaraan disana lalu kami bergerak mendekati salah satu gerbang dinding sebelah utara. sepanjang jalan kami mengajak banyak keluarga hingga kami tiba disini dan berjumpa denganmu"

Aku sedikit tertegun mendengarnya. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin sekali kuajukan pada Arini. Namun, melihatnya tertunduk sambil menenggak isi kalengnya membuatku berpikir dua kali. Aku hanya terdiam menatap api unggun itu sambil membayangkan bagaimana caranya untuk bisa sampai ke Bandara Soekarno Hatta dengan kepungan dari makhluk-makhluk buas berkulit merah itu.

Jakarta After Doomsday [Part 4 : Back to Home and Found the Clue]

Sudah setengah jam aku berkendara bersama bocah kecil bernama Balqis ini. Sepanjang jalan ini yang terlihat hanya kendaraan-kendaraan yang berserakan di trotoar. Bangunan-bangunannya sendiri juga sudah lama hancur dan tertutup debu. Sepertinya aku harus terima kenyataan bahwa kota besar ini sudah lama tak dihuni oleh 'manusia yang masih normal'. Rasa yakinku bahwa dua orang saudaraku masih selamat mulai berkurang. Apalagi sepanjang jalan ini kulihat beberapa Yacd dipinggir jalan tengah berjalan sempoyongan sembari menatap kami. Sejauh ini mereka bukan ancaman kami mengingat kami berdua mengendarai sepeda motor dengan cepat dan juga membawa senjata, lagipula tidak banyak dari mereka yang terlihat walaupun harus kuakui keberadaan mereka juga tidak bisa diremehkan.

Tiba di tujuan kami memarkirkan motor kami masing-masing dan mulai mendobrak masuk kedalam. Balqis sendiri kelihatan tertegun melihat rumahku yang sudah tak berpenghuni ditengah perumahan diwilayah Kelapa Gading yang sekarang lebih terlihat seperti padang pasir yang tandus.
"Asyam, Fajrin, aku pulang, kalian dimana?"
Tak ada jawaban dari teriakanku sejauh ini. Aku berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lainnya dari lantai satu hingga lantai dua. Balqis sendiri sibuk menodongkan shotgun-nya ke setiap sudut gelap. Seisi rumah ini sudah acak-acakan, beberapa lemari juga berantakan dan terbuka begitu saja. Aku mulai berpikir apa iya mereka berdua sudah lebih dulu pergi sebelum bencana itu tiba? tanpa sengaja aku menginjak sesuatu saat masuk kedalam kamar Asyam, sebuah kotak tak tertutup yang berisi dua buku binder, sebuah handycam, dan satu pistol Barreta 92 yang terisi penuh. Aku tidak mengerti kenapa mereka berdua menyimpan buku didalam kotak padahal yang aku tahu mereka berdua tidak pernah menulis apapun di buku binder, dan darimana mereka dapat pistol ini? ada suara geraman yang terdengar dilantai bawah, semakin lama geraman itu semakin jelas.
"Balqis, kamu masih dibawah situ?"
Tidak ada satupun senjata yang kubawa dan Balqis sendiri tidak menjawabku sejak tadi, padahal hanya dia yang pegang senjata. Perlahan-lahan aku menuruni tangga mencoba untuk tidak bersuara, namun saat aku melihat sekeliling lantai bawah, suasananya masih sehening tadi. Setidaknya sampai aku ditarik kedalam sebuah kamar secara tiba-tiba hingga tersungkur.
"Dasar bocah, bikin kaget saja" aku menggerutu saat kusadari kalau yang tadi menarikku adalah Balqis.
"Pssst jangan berisik" Balqis membekapku sambil mengarahkan moncong senjatanya kearah luar rumah melalui celah-celah dinding. Kulihat dari celah itu ada satu Yacd yang mencoba berjalan masuk kearah rumah.
DHAR ... !!!
Satu tembakan mendarat tepat dikepala makhluk merah itu, terlihat Yacd itu menggelepar sebelum tubuhnya meletus. Kami berdua keluar dari rumah dan melihat sisa tulang dari Yacd itu. Kami menghembuskan nafas lega mengetahui kalau satu ancaman telah berlalu. Namun beberapa saat merasa kalau kami sudah aman, tiba-tiba ada sesuatu yang menarikku kembali masuk kedalam rumah. Ada satu Yacd berukuran lebih besar dan gemuk mencoba menarikku ke lantai atas. Dengan gelagapan Balqis mengokang senjatanya dan menembak tangan Yacd besar itu. Tangan kiri Yacd itu terputus hingga memberiku kesempatan untuk berlari mendekati Balqis, tembakan demi tembakan diarahkan ke kepala Yacd itu namun dengan tenangnya Yacd itu berjalan semakin mendekat kearah kami.
"Sial, tidak berhasil dan peluruku sudah habis!"
"Harusnya tadi kau arahkan saja ke kakinya agar dia tidak bisa berjalan!"
"Tidak bisa, Yacd hanya bisa dibunuh dengan menembak bagian otaknya. Jika yang kutembak adalah bagian tubuh lain, bagian itu akan sembuh lagi kurang dari tujuh menit"
Kami mulai putus asa hingga aku punya ide, kalau Yacd biasa bisa mati jika otaknya ditembak mungkin artinya Yacd besar ini hanya bisa dibunuh dengan menusukkan sesuatu kearah kepalanya. Ada sebatang besi tajam bekas tiang papan jalan diluar sana, dengan terburu-buru aku membawa Balqis keluar dan mengambil besi itu.
"Hei kau mau apa?" Balqis berteriak kearahku namun aku tidak peduli. Yacd itu sudah berada diteras luar dan secepat kilat aku meloncat kearah Yacd itu. Satu tusukan tepat menembus keningnya hingga ke belakang kepala. Aku buru-buru menjauh saat Yacd itu berteriak sangat nyaring. Raungannya memekakan telinga dan terdengar mungkin hingga radius puluhan meter. Sesaat kemudian tubuhnya meledak, lendir dan dagingnya yang hancur berceceran dimana-mana bahkan sampai melumuri sekujur tubuhku.
"Sudah selesai?" Balqis menggeleng saat mendengar pertanyaanku.
"Sepertinya tidak, tadi Yacd itu berteriak nyaring saat kau berhasil membunuhnya. Itu berarti ada kemungkinan sekawanan Yacd lain akan mendekat kemari"
Dugaan balqis benar, sekitar lima puluh Yacd berjalan mendekati kami dari berbagai arah. Dengan panik Balqis menaiki motornya mencoba pergi.
"Apa lagi yang kau tunggu ayo cepat pergi!" Balqis berteriak melihatku masih berlagak tenang.
"Tenanglah, mereka masih jauh dan cara mereka berjalan sangat lamban"
"Iya memang mereka lambat saat berjalan namun mereka bisa melompat jauh dengan sangat cepat"
Terkejut mendengarnya aku buru-buru masuk kedalam rumah mencoba mengambil kotak yang tadi kutemukan. Setelah dapat aku keluar dari rumah dan menyalakan motor Arini yang kuparkir di teras. Kami merasa lega setelah berhasil meninggalkan tempat ini hingga salah satu Yacd meloncat dan berhasil berpegangan pada knaplot motorku. Dengan sigap Balqis menabraknya hingga kepalanya terbelah. Otaknya berceceran dan tubuhnya langsung meletus.
"Hantaman yang bagus" melihat senyumku Balqis ikut senang dan mengeluarkan HT-nya.
"kak Arini ini aku Balqis, kami udah selesai disini"
"Bagus, rombongan udah berjalan dari jam sebelas tadi. Kita ketemuan di Masjid Istiqlal"
"Oke"

Sepanjang jalan aku diliputi kecemasan. Sudah kuhampiri rumah itu namun tidak kutemukan salah satu dari mereka. Dan diantara barang-barang mereka yang berserakan hanya kotak ini yang kelihatannya agak mencolok, apalagi aku sangat tahu mereka tidak pernah menyimpan sesuatu yang berbahaya seperti pistol ini. Aku dan Balqis masih memacu kencang motor kami dibawah teriknya matahari yang semakin memanas. Disaat seperti ini aku malah semakin khawatir pada Asyam dan Fajrin. Oh Tuhan, apapun yang terjadi pada mereka, kumohon padaMu jangan biarkan mereka berada dalam ketakutan yang teramat panjang.
"Kotak apa itu!?" Balqis berteriak padaku melihatku membawa sebuah kotak yang kuletakan diatas tangki motor.
"Tidak tahu, aku bahkan tidak pernah melihat para saudaraku menyimpan kotak ini sebelumnya!"
"Apa isinya!?"
"Cuma dua buku tebal, pistol dan perekam!"
"Mungkin saudaramu itu mencoba meninggalkan semacam pesan didalam kotak itu! sebaiknya langsung kau periksa begitu kita tiba nanti!"
Ya, kurasa Balqis benar. Satu-satunya petunjuk yang mereka berdua tinggalkan mungkin cuma kotak ini. Akan kuperiksa isi buku dan handycam ini, siapa tahu isinya merupakan petunjuk untuk memecahkan semua misteri yang masih membingungkan ini.

Jakarta After Doomsday [Part 3 : Truck Convoy from Another City]

Makhluk itu menggeram penuh amarah dihadapanku. Gigi-giginya yang berbentuk taring semua terpampang jelas. Lidahnya yang panjang menjulur membelit pipi dan leherku. Tubuhku masih mati rasa. Aku berusaha sebisaku meraih potongan besi didekatku namun tanganku masih tidak bisa bergerak bebas. Sial, berapa lama lagi efek bius ini akan berakhir? Puas menjilatiku, makhluk ini mendekatkan gigi-giginya kearah leherku mencoba untuk mengunyah daging leher dan menghisap darahku.

Kudengar diluar sana suara letusan senjara mesin, beberapa pemuda dengan berpakaian seperti tentara lengkap dengan mengenakan topeng gas tengah sibuk memuntahkan begitu banyak timah panas dari senjata-senjata mereka. Sebagian lagi melempar gas penenang kearah sekumpulan monster yang berada didalam gedung tempat aku terbaring ini. Makhluk dihadapanku melepaskan leherku dan berlari menjauh sebelum salah satu dari mereka berhasil menembakinya. Aku bersyukur karena masih bisa hidup disaat ketika kukira ajalku akan datang ... lagi. Aku menghela nafas dan menutup mataku yang sudah sayu sejak tadi.
"Masih ada banyak didalam gedung ini"
"Gunakan peluru tajam, dan arahkan tembakan kalian tepat di kepalanya"
"Jangan biarkan lolos, basmi semuanya tanpa terkecuali"
"Hey!! ada warga sipil yang selamat disini! bahunya terluka parah!"
"Minta lebih banyak bantuan kesini, dan bawa orang ini ke konvoi"
"Sial, si preman ini berat juga"
"Angkat dia ke meja operasi dan bawakan aku alat-alat bedah"
"Tadi ada satu Yacd yang mendekati pria ini, kami berhasil membunuhnya sebelum Yacd itu berhasil membunuh pria ini"
"Kirim lebih banyak tambahan orang kesana, sekalian bawa senjata-senjata berat"
"Periksa sekujur tubuhnya termasuk luka dibahunya, pastikan tidak ada parasit yang terlanjur masuk ke tubuhnya"

***

Kurasakan tubuhku yang menggigil mulai hangat perlahan. Kusadari aku terbaring disebuah sofa dengan tubuh terbalut selimut tebal yang hangat. Kurasakan pula tubuhku sudah membaik dan tidak mati rasa. Kutatap sekelilingku ada sekitar belasan truk besar dan beberapa mobil yang bannya sudah diganti dengan ban untuk medan berat. Di dekat sofa tempat aku berbaring ada beberapa meja dengan payung besar dan dibelakang sofa ini ada sebuah truk. Tempat aku berbaring ditutup oleh sebuah terpal yang melindungiku dari silaunya mentari pagi. Seorang gadis kecil menatapku dengan wajah polosnya.
"Selamat pagi tukang tidur"
"Aku ada dimana, dan kau siapa?"
"Aku Balqis, kau ada di salah satu iring-iringan truk kami"
"Kami? memangnya kau bersama siapa saja?"
Seorang gadis muda tomboy berambut bob duduk di meja dekat sofaku. Terlihat dia tengah sibuk mengisi ulang senjata mesinnya.
"Syukurlah kau sudah sadar"
"Apa yang terjadi, dan kalian siapa?"
"Apa yang kau lakukan didalam Rumah Sakit itu semalam?"
"Ada beberapa makhluk aneh menyerangku, aku mencoba mencari bius untuk menjahit lukaku"
"Kau beruntung masih bisa hidup, ada dua puluh Yacd yang bersarang di tempat kau terbaring semalam. Tadinya kami berniat membunuhmu juga tapi untungnya parasit dari Yacd itu tidak sempat masuk ke tubuhmu"
"Yacd, apa itu Yacd?"
Sesaat Balqis dan gadis tomboy itu terdiam lalu kemudian melanjutkan kembali obrolan kami.
"Monster yang kemarin menyerangmu itu, dulunya dia manusia juga. Namun sekarang dia sudah terinfeksi virus HIV yang sekarang sudah berevolusi sejak kejadian buruk tanggal 12 April 2027"
"Virus HIV berevolusi sejak tanggal 12 April 2027? apa yang terjadi memang ditanggal itu?"
"Bencana besar yang membumihanguskan seisi daratan di bumi, membuat jutaan umat manusia musnah karenanya. Hanya sedikit yang bertahan dan lebih dari setengahnya sudah terinfeksi virus ini. Yang lebih buruk lagi, mereka yang terinfeksi sekarang malah jadi pemangsa manusia. Dan soal pertanyaanmu tadi, monster-monster ini kami menyebutnya Yacd"
Terkejut mendengar itu semua, aku bangun dari sofa ini dan mencari mantelku. Kulihat disekelilingku, semua yang bersantai diantara truk-truk besar ini melongo melihatku kebingungan atas apa yang ada disekitarku ini.
"Kalian dari kota mana, dan mau berangkat kemana?"
"Kami semua dari Bandung dan sedang mengadakan perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta" si tomboy ini menjawab pertanyaanku sambil masih asik dengan senjatanya.
"Ada apa di bandara itu memangnya?"
"Kami dapat bocoran bahwa ada beberapa pesawat kargo besar yang disimpan dalam sebuah bunker rahasia disana, kami mau mengambilnya agar kami semua bisa mengungsi ke Aceh. Disana ada sebuah kamp besar yang dihuni para koloni pengungsi dari berbagai penjuru provinsi"

Aku masih menggaruk-garuk kepalaku, masih terasa membingungkan atas apa yang terjadi disini. Walaupun ada sedikit hal yang kupahami, yaitu tidak banyak manusia yang 'masih utuh' disini dan kebanyakan hanya orang-orang kanibal berkulit merah yang mereka sebut Yacd.
"Tanggal berapa ini?"
"23 September 2028" gadis kecil ini menjawab pertanyaanku.
"Aku harus pergi ke suatu tempat"
"Sebaiknya jangan, ada banyak Yacd diluar sana yang sedang kelaparan"
"Kau tidak mengerti, aku harus temui dua orang yang tinggal di kota ini"
"Yacd selalu menyerang secara bergerombol, apa yang membuatmu berpikir kalau kau bisa menangani mereka sendirian dalam kondisi fisik seperti itu" si tomboy itu ikut bicara disini.
"Jangan khawatir, aku sudah sering main game dan nonton Resident Evil, aku tahu caranya bertahan hidup"
"Yacd bukanlah zombie, mereka adalah jenis makhluk berbeda"
"Tapi tetap bisa dibunuh dengan cara yang sama, iya kan?" aku mulai berani menyela mereka.
"Hei bung, kau masih bisa hidup setelah kemarin kau nyaris mati dan sekarang kau malah ingin pergi ketempat yang bisa membunuhmu kapan saja?" seorang pria negro bertopi keluar dari salah satu truk dan memandang kearahku. Sesaat terdiam lalu kulanjutkan obrolan aneh ini.
"Bukan hanya kalian yang harus mengungsi itupun kalau memang bencana ini nyata. Aku harus pastikan dua orang saudaraku dalam keadaan baik-baik saja"
Sekarang semua orang terdiam, sebagian dari mereka berpikir kalau masih ada dua orang yang bisa membantu dalam perjalanan ke bandara dan sebagian lagi berpikir kalau aku akan jadi santapan makhluk-makhluk merah itu. Si tomboy kini melempariku dengan sebuah kunci.
"Pakailah motorku didalam truk merah itu, dan biarkan Balqis ikut bersamamu"
"Arini, apa-apaan yang kau lakukan itu!?" si negro berteriak pada si tomboy itu.
"Jadi namamu Arini?" aku mengantongi kuncinya ke celanaku.
"Dan kau berhutang identitas padaku setelah kau kembali nanti"
Aku melangkah ke truk merah besar yang ditunjuk oleh si tomboy bernama Arini ini. Ada dua Suzuki GSX disini dan salah satunya sudah dinaiki oleh Balqis. Ya sudah, berarti cuma satu motor disini yang akan kupakai. Dibawah sinar mentari nan cerah ini aku mulai berkendara bersama bocah kecil dengan shotgun dipunggungnya, aku hanya ingin memastikan apa yang terjadi pada Asyam dan Fajrin dan apakah mereka masih hidup.

Jakarta After Doomsday [Part 2 : The Ruins of the Former Big City]

"Kami semua sangat mengkhawatirkanmu ..."
" ... Aku yakin Tuhan masih mau memaafkanmu"
" ... Biarkan dia tenang dialam sana"
"Aku akan selalu menyayangimu, kakakku ..."

Haah!!??
Aku terbangun disebuah ranjang didalam ruangan empat kali empat tanpa jendela yang terbuka apalagi lampu yang menyala. Disini terlalu gelap, sulit untuk melihat dengan jelas bagian dalam ruangan ini. Sejujurnya aku merasakan seperti baru terbangun dari mimpi buruk, ya mimpi buruk yang teramat sangat panjang. Tentang semua orang yang terlalu khawatir padaku, tentang nasib naas yang menimpa adikku. Kurasakan ada rasa terbakar didalam kepalaku dan saat kusentuh keningku, ada bekas seperti lubang kecil ditengahnya. Sayang tidak ada cermin disini, aku mencoba meraba-raba mencari pintu disekitar sini. Aku berhasil membuka satu pintu yang membawaku ke sebuah koridor. Ada banyak pintu disekitar sini, sungguh aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum aku terbangun dari ruangan itu. Merasa kedinginan, aku mencoba mencari siapapun disekitar sini berharap bisa meminjam mantel hangat jika memang ada yang punya. Namun tempat ini sepertinya terlalu sepi. Satu jam sudah kuhabiskan untuk berkeliling tempat ini dan aku berhasil keluar dari ... ya, terlihat seperti sebuah gedung putih bertuliskan RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo. Kulihat sekelilingku hanya ada gedung-gedung yang hancur dan semuanya berwarna abu-abu. Sinar mentari begitu terik namun langit disini berwarna abu-abu pekat dan hanya ada beberapa awan diatas sana. Ada satu truk yang kelihatan masih 'berbentuk' diantara begitu banyak benda-benda yang sudah hancur. Aku mencoba memeriksa bagian dalam itu berharap ada jaket atau semacamnya yang (kuharap) masih tertinggal didalam bagasi truk itu. Yang kudapatkan lebih dari yang kuharapkan. Sebuah mantel besar berlengan panjang, celana jeans hitam, beberapa utas tali, sepasang sarung tangan dan sebuah ikat kepala. Setelah memakai semua itu, aku berjalan menelusuri setiap tempat selama berjam-jam berharap ada seseorang yang bisa kutemui. Namun hanya ada reruntuhan dan sisa-sisa seperti habis terbakar. semua gedung-gedung pencakar langit hanya menyisakan kerangkanya saja. Merasa mulai heran, kuputuskan untuk menaiki salah satu dari gedung itu yang tertinggi. Tiba diatas sana aku memandang dari bagian jendela luar, aku hanya menghela nafas atas apa yang kulihat ini.

"Apa yang terjadi disini, sudah berapa lama aku tertidur sampai aku melewatkan semua ini?" aku bergumam dalam hati melihat begitu banyak gedung-gedung besar, bangunan-bangunan bagus, jalan layang yang kokoh, fasilitas-fasilitas umum, ratusan kendaraan, semuanya hancur tak bersisa. Sesaat aku berpikir mungkinkah cuma aku yang tersisa disini? Ah tidak mungkin, aku yakin pasti ada orang yang juga bernasib sepertiku diluar sana entah dimana. Buru-buru aku turun dari gedung ini dan mencari dua batang linggis dan beberapa sisa logam yang tajam, mungkin bisa kugunakan untuk bertahan hidup karena aku merasakan seperti ada seseorang atau mungkin sesuatu yang sejak tadi mengawasiku. Berjalan diantara celah-celah bangunan, kudengar seperti suara derap langkah kaki. Namun saat aku menoleh tidak ada siapa-siapa. Suara itu terdengar lagi, kali ini terdengar lebih jelas. diatas genteng dari sebuah bangunan kulihat ada orang seperti tergeletak dalam keadaan tertelungkup.
"Heeey, kau baik-baik saja !!??"
Sesaat setelah aku berteriak, orang tertelungkup itu mendongakan wajahnya kearahku. Sesaat aku terdiam melihatnya hingga tiba-tiba orang itu merangkak cepat sekali. Dia turun kebawah dengan merangkak dan menghilang diantara rumput-rumput liar.
Aku terbengong sesaat hingga kusadari orang itu melompat tinggi sekali kearahku, berniat menerkamku. Sebelum sempat menyentuhku, aku lebih dulu melemparinya dengan potongan logam yang kubawa tepat mengenai keningnya dan menembus hingga belakang kepala. Beberapa saat-kulihat orang itu menggelepar hingga akhirnya tubuhnya ... hmmm kau bisa bayangkan sebuah balon sabun yang disentuh dengan tangan lalu kemudian meletus. Kira-kira itulah yang terjadi pada orang itu, dia meletus dan hanya menyisakan kerangka tubuhnya. Sesaat kukira aku sudah aman ternyata ada tiga lagi yang seperti orang tadi. Muncul dari celah-celah bangunan dan mengepungku. Wujud mereka seperti manusia namun kulit mereka memerah seperti habis terbakar dan bau mereka sangat busuk dan yang pasti tanpa bola mata. Aku berusaha semampuku untuk bertahan hanya dengan beberapa potongan besi. Aku berhasil mengalahkan mereka bertiga walaupun bahu kiriku tertancap potongan besiku sendiri saat sibuk melawan mereka. Aku sadar kalau besi ini dicabut maka aku akan mati karena kehabisan darah akuibat pendarahan hebat, namun jika kubiarkan rasanya semakin sakit saja. Sialnya lagi tidak ada air disini, debu-pun tidak cukup membantu.

Dengan sempoyongan menahan sakit karena membiarkan batang besi ini menembus bahuku tanpa mencabutnya, aku berjalan tanpa henti selama berjam-jam atau malah mungkin seharian penuh. Ingin rasanya kembali ke rumah sakit tempat aku keluar tadi, tapi saat ini aku sudah terlanjur berada di Jalan Otto Iskandardinata dan jika aku memutuskan untuk kembali perjalanannya bisa sangat jauh. Entahlah apa sebutannya ini, aku tidak sadar kalau aku sudah berjalan terlalu jauh padahal kukira aku masih didekat rumah sakit itu. Aku ingat ada sebuah Rumah Sakit didekat Jalan Dewi Sartika dan jaraknya hanya tinggal beberapa jam lagi. Aku tidak boleh menyerah karena aku tidak mau mati kekeringan disini ataupun mati diserang makhluk seperti tadi yang mungkin masih ada disekitar sini. Beberapa jam berjalan hingga berpikir kalau aku tidak akan berhasil, akhirnya aku beruntung sudah berada dirumah sakit itu. Sejauh ini aku masih sendirian dan tidak ada yang membuntutiku. Hari sudah malam dan sepertinya hujan akan turun, kuharap ada sesuatu didalam rumah sakit ini yang bisa kupakai selama satu malam karena malam ini aku harus bermalam disini. Tiba didalam rumah sakit ini aku menyusuri tiap-tiap ruangan gelap disini berharap bisa menemukan obat bius atau setidaknya sebaskom air. Tidak banyak yang kutemukan , hanya benang dan jarum, segelas air, senter dan botol kecil bertuliskan "Trivam Propofol", coba saja lah lagipula aku tidak butuh banyak, cuma untuk menjahit lukaku sendiri. Beberapa saat aku selesai mengobati lukaku, aku merasakan aku mulai mengantuk. Tanpa kusadari aku tertidur.

Aku tidak ingat berapa lama aku tertidur, tidak ada cahaya disekelilingku. Semua gelap dan mencekam karena memang aku sendirian disini. Hawa dingin menjalar keseluruh tubuhku, kelihatannya hujan sudah reda namun hari masih gelap, yang kutahu sekarang bahuku sudah membaik walaupun masih mati rasa. Ada suara geraman yang kudengar disini. Suaranya sangat jelas, aku tahu pasti beberapa makhluk yang seperti tadi siang pasti juga ada disekitar sini. Tangan kananku menyentuh senter tadi dan langsung menyalakannya. Aku terperanjat setelah melihat sebuah wajah mengerikan. Kulit wajahnya merah, tanpa bola mata, mulut penuh lendir, tepat sejengkal didepan wajahku.

Jakarta After Doomsday [Part 1 : Intro Story]



“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS Hud ayat 82)

Aku adalah seorang narapidana kasus pembunuhan yang telah membunuh sekitar delapan orang dan semuanya adalah anak-anak SMA. Aku membunuh mereka karena mereka telah memperkosa dan membantai adik tiriku. Walaupun hanya adik tiri namun kakak mana yang tidak sedih melihat adiknya diperlakukan begitu? Aku merasakan kepuasan tersendiri saat aku memotong-motong tangan dan kaki mereka saat itu, meski begitu aku bukanlah seorang psikopat gila. Aku hanya ingin membalas dendam dan memberikan hukuman pada bocah-bocah yang ketagihan video porno dan lantas melampiaskannya pada orang yang paling kusayangi ini. Dan disinilah aku, terkurung dalam jeruji besi mengenakan pakaian merah polos dengan angka 06133 dibagian dada kiri. Menunggu hingga tengah malam tiba dimana aku akan menghadapi prosesi hukuman mati. Sahabat baikku Fajrin dan Asyam menemuiku didalam sel jelek ini.
"Bagaimana keadaanmu?" Fajrin mulai bicara padaku.
"Jangan pura-pura khawatir, hanya aku diantara kita disini yang akan ditembak mati"
"Kami semua sangat mengkhawatirkanmu, terutama setelah pengakuanmu pada pihak kepolisian"
"Mereka sudah dapatkan hukuman mereka, kurasa hukuman untukku akan datang mulai malam ini"
"Kau tidak boleh bicara begitu, aku yakin Tuhan masih mau memaafkanku" Asyam ikut berujar.
"Tidak ada lagi kata maaf, dunia sudah terlanjur kacau balau. Kiamat seharusnya datang dalam waktu dekat"
Asyam mendekatiku dan menatap mataku dalam-dalam. Aku hanya membalasnya dengan wajah pucat.
"Kau harus ikhlaskan kepergian Opi, biarkan adikmu tenang disana dan aku yakin dia sudah memaafkan mereka"
"Ya aku akah ikhlaskan dia jika dia masuk surga, tidak peduli kalau aku akan langsung diseret ke neraka. Lagipula ada delapan bocah yang akan kujadikan mainan disana"
"Menyimpan dendam bukanlas sesuatu yang baik mengingat keadaanmu saat ini" mendengar ucapan Asyam aku hanya menyengir.
"Tidak usah repot-repot, nanti aku akan kirim salam darimu untuk kakekmu jika aku berhasil sampai ke surga, tapi jika tidak artinya kau harus tunggu giliranmu untuk mati nanti" ujarku sambil menyeringai.
"Baiklah sudah cukup, kalian berdua keluarlah, eksekusi akan dimulai sebentar lagi" seorang sipir memaksa mereka berdua keluar dari sel ku. Aku masih memperlihatkan wajah datarku saat mereka dipaksa pergi.

21:00 PM
Aku berjalan dengan dikawal oleh lima polisi dalam keadaan kaki dan tangan dirantai. Aku sudah pasrah dan siap untuk apapun yang akan menghampiriku malam ini. Kami berjalan menuju ruang ganti pakaian untuk mengganti pakaian tahananku dengan pakaian eksekusi. Kulihat dilapangan sana sudah dipersiapkan tiang dengan rantai pengikat yang nantinya akan dipakai untuk mengikat tubuhku.  Selain itu juga pihak medis sudah menyiapkan beberapa orang petugas dan satu mobil lengkap dengan keranda mayat didalamnya. Setelah berganti pakaian seorang Ustadz mendekatiku dan membacakan doa yang cukup panjang untukku. Walaupun begitu aku bisa merasakan ada beberapa kalimat yang bisa kupahami dari doa itu.

" ... RABBANAA AATINAA FIDDUNNYAA HASANAH, WA FIL AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA ‘ADZAA BAN NAAR. ..."

Setelah merasa tenang dan setelah surat wasiat selesai ditulis, aku dibawa ketengah lapangan untuk diikat dan kepalaku ditutup. Delapan orang regu tembak telah mengambil senapannya masing-masing dan bersiap mengambil posisi. Perasaan tegang ini sudah dilempar jauh dari dalam hatiku. Aku menarik nafas dalam-dalam ketika seseorang mulai berhitung mundur.
LIMA, EMPAT, TIGA, DUA, SATU, ... DHAR!!!
kurasakan darah segar mengalir dari kepalaku, menyisakan sebuah bekas berbentuk lubang tepat ditengah keningku. Tanpa terasa air mataku berlinang dan semenit kemudian nafasku berhenti.

Tahun 2024.
Kejahatan seksual semakin menjadi-jadi akibat industri produk-produk porno yang semakin gencar dipublikasikan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Kebanyakan dari mereka meraup untung yang besar karena mereka mempunya modal yang cukup untuk menyuap sebagian oknum penegak hukum. Akibatnya norma-norma kesopanan sudah tidak berlaku lagi dan seisi dunia menjadi surganya praktek prostitusi yang semakin diluar akal sehat. Area pelacuran, pemerkosaan ditempat-tempat umum, pedofilia yang berkeliaran, tindakan asusila tak wajar tanpa henti menjadi pemandangan biasa disegala tempat. Pihak PBB sudah berulangkali memberikan arahan pada seluruh penduduk dunia untuk menjauhi tindakan seks bebas yang dikhawatirkan akan membuat virus HIV kembali menjadi masalah dunia. Tokoh-tokoh pemuka agama juga sering mengingatkan dalam setiap khotbahnya untuk kembali pada norma-norma yang sesuai dengan ajaran agama. Namun semua himbauan itu hanya dianggap sebagai lelucon belaka oleh hampir sebagian besar masyarakat dunia. Hingga akhirnya, Tanggal 12 April 2027 dunia berhadapan dengan bencana besar sepanjang sejarah. Seluruh gunung berapi paling berbahaya ditiap-tiap negara meledak bersamaan, termasuk pula Gunung Merapi dan Gunung Krakatau. Abu vulkanik telah menyapu bersih seluruh daratan menyebabkan jutaan orang tewas seketika. Mereka yang selamat menyebutnya sebagai 'bagian terburuk dalam kitab suci'. Bencana telah berlalu dan sisa umat manusia yang masih hidup hanya tersisa delapan belas ribu lima ratus tujuh puluh tiga yang tersebar di bekas-bekas negara besar termasuk Indonesia. Kerusakan yang paling parah dialami oleh kota-kota besar yang mana salah-satunya adalah Jakarta. Setelah perlahan-lahan mencoba mempertahankan eksistensi rasnya dimuka bumi, kini mereka dihadapkan dengan sebuah isu mengerikan yang disebut sebagai 'Lot's Project' (Proyek Nabi Luth). Tentang makhluk-makhluk misterius yang muncul setahun setelah bencana. Satu demi satu umat manusia berakhir menjadi korban serangan makhluk-makhluk itu. Tidak ada yang tahu pasti makhluk apa sebenarnya mereka itu karena umat manusia yang tersisa semakin putus asa dan menyerah untuk meneliti. Umat manusia kini berada diambang kepunahan.

Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

  • Copyright © 2016 Template By : San-San | Powered By : Blogger