Blog Pribadi San-San

  • home
  • About Me
  • Facebook
  • Sitemap
  • Twitter
  • Kemudian
  • Wattpad
  • Word Counter
Tampilkan postingan dengan label petualangan. Tampilkan semua postingan

Jakarta After Doomsday [Part 6 : Last Message from My Brothers]

"Hei, bisa kau ceritakan kisahmu sampai ketika kau bersembunyi di rumah sakit yang semalam itu?"
Aku tidak tahu harus bicara apa pada Arini. Ingin sekali kukatakan padanya kalau sebenarnya aku sudah dihukum mati lima tahun lalu karena telah membantai delapan orang bocah SMA yang telah memperkosa adik perempuanku hingga tewas. Tidak, aku tidak akan mengatakan hal itu, aku terpaksa harus berbohong untuk saat ini sampai aku merasa semua yang kualami ini sudah jelas. Aku tidak mau Arini merasa curiga denganku padahal aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa aku hidup lagi setelah sebelumnya aku dihukum mati.

"Aku dirawat di RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo, hal terakhir yang kuingat adalah salah satu dokter mengatakan kalau aku mengalami gegar otak pasca kecelakaan. Setelah dioperasi pun aku masih mengalami koma dan saat aku sudah merasa membaik dan mulai terjaga, aku berusaha minta bantuan suster untuk membersihkan diri. Namun tidak ada satupun dari mereka yang datang, jadi aku berkeliling koridor demi koridor lalu kemudian keluar dari gedung rumah sakit. Ternyata keadaan diluar sudah jadi seperti ini."

"Kau beruntung bisa selamat dan berhasil melewati 12 April dengan aman" Arini sedikit tersenyum padaku.
"Mungkin 12 April itu sudah berlalu, tapi kita tetap masih belum aman kan" aku mencoba mengingatkannya lagi soal yacd itu.
"Ya memang belum, itu sebabnya kita harus mengungsi ke Aceh secepatnya"
"Kenapa harus Aceh?"
"Ada tujuh provinsi besar yang saat ini digunakan sebagai wilayah tempat tinggal sementara untuk para koloni pengungsi. Aceh adalah salah satunya yang terdekat dari sini."
"Tidak bisakah kita tetap di Pulau Jawa"
"Tidak jika kau masih mau hidup, Pulau Jawa adalah sarangnya para yacd. dan Jakarta adalah wilayah dengan populasi yacd terbanyak. Aku tidak tahu denganmu tapi yang jelas aku dan para anggota keluarga lainnya tidak bisa berlama-lama tinggal di provinsi besar yang sekarang sudah terlalu berbahaya untuk dihuni ini."

Aku menghela nafas. Ternyata banyak yang sudah kulewatkan sejak aku masih di rumah sakit itu. Aku mulai putus asa untuk mencari dua saudaraku. Apalagi Arini bilang kalau Jakarta adalah area yang paling banyak yacd-nya. Di satu sisi aku masih mau berada disini untuk mencari Asyam dan Fajrin, tapi disisi lain aku juga ingin bisa pergi ke Aceh sekalian untuk mencari tahu apa yang salah dengan tubuhku ini.

"Sudah jam setengah sembilan malam, sebaiknya kau tidur sekarang. Kalau mau sholat tahajud tengah malam nanti, jangan lupa minta bantuan siapa saja untuk mengawasimu didalam masjid" Arini meninggalkanku kembali ke truknya. Salah-satu rekannya yang masih memegang senjata mulai mendekatiku.
"Tunggu, tahajud?" aku sedikit mengerutkan dahiku.
"Iya tahajud kau tau, sholat malam yang biasa dilakukan ketika kau terjaga dimalam hari?"
Agak malu rasanya saat aku mengatakan kalimat ini "entahlah, aku belum pernah sholat tahajud sebelumnya"
"Jangan khawatir, Ilham akan membantumu" ujarnya sambil berlalu meninggalkanku. Aku hanya melongo menatap pria muda bernama Ilham disampingku ini.

"Kau boleh tidur sekarang kalau kau mau, nanti aku akan membangunkanmu saat tengah malam" ujarnya dengan senyuman ramah.
"Ehh sebenarnya aku belum begitu mengantuk. Tapi aku ingin sekali membaca isi buku ini" ujarku sambil memperlihatkan kotak yang kutemukan.
"Baiklah silahkan" ujarnya sambil memanaskan isi kalengnya kedekat api unggun sementara aku menjauh dan naik ke atas atap salah satu truk.

Perlahan tetapi pasti, keadaan disekitar api unggun mulai sepi. Seluruh anggota keluarga dari orang-orang Bandung ini satu per satu masuk kedalam truk mereka masing-masing. Aku langsung naik ke bagian atap truk milik Arini karena memang semua truk sudah penuh dan tidak ada tempat sepi yang cocok untuk kupakai sendiri selain atapi truk ini. Akhirnya, sekarang aku tinggal memeriksa isi dari buku didalam kotak ini. Aku membacanya lembar demi lembar, kurasa ini cuma buku diary biasa. Isinya hanya aktifitas harian yang dilakukan Asyam tiap harinya. Salah satu dari lembaran ini menceritakan tentang saat-saat ketika aku dieksekusi mati hingga ketika mereka selesai memakamkanku. Selebihnya hanya aktifitas biasa. Saat aku mulai bosan membaca buku ini, aku melihat beberapa lembaran yang menarik perhatianku karena dilihat dari tanggal penulisannya, lembaran ini ditulis beberapa minggu setelah kejadian 12 April.

2 Mei 2027
Aku bersama Fajrin berhasil menyelamatkan diri disebuah bunker yang ternyata lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami bersama teman-temanku yang mana orang tua mereka bekerja sebagai tentara dan mereka tahu lokasi dari bunker itu dan berhasil menemukan cara untuk berlindung didalamnya. Awalnya mereka sempat menolak untuk mengajak kami berdua namun pada akhirnya mereka mengizinkan kami untuk ikut berlindung bersama mereka. Walaupun sebenarnya nasib orang tua kami tidak seberuntung nasib kami. Setelah bertanya pada salah satu dari tentara disini, mereka memberikan informasi yang membuatku terperanjat. Ternyata ada tujuh negara didunia yang sudah memprediksi kapan terjadinya hari paling mengerikan itu. Sayangnya Indonesia bukan salah satunya. Itupun tentara disini mengetahuinya setelah mendapat bocoran dari rekan-rekan mereka yang bertugas di San Marino. Salah satu dari tujuh negara yang dimaksud. Mereka sengaja menyembunyikan informasi ini dari publik untuk maksud tertentu dan mereka berdalih hanya untuk menghindari kepanikan masal. Kulihat saat ini Fajrin mencoba mencari tahu soal hal ini, tidak banyak yang kuketahui sehingga aku tidak bisa berbuat banyak untuk menolongnya. Dan entah kenapa, disaat seperti ini aku malah merindukan Isa yang saat ini sudah tenang di alam sana. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami berikutnya, karena yang pasti saat ini aku, Fajrin dan yang lainnya akan mengadakan perjalanan ke Aceh. Entahlah aku bahkan tidak tahu kenapa kami kesana. Yang pasti sebelum kami pergi, aku putuskan untuk meninggalkan buku ini didalam kotak. Mungkin suatu hari nanti akan ada orang yang akan menemukannya dan membacanya. Ini adalah catatan terakhirku karena beberapa hari kedepan aku akan menulis catatan baru, termasuk membeberkan sebuah file 'top secret' bernama LOTS PROJECT.

Lost Project, apa lagi itu? aku mencoba mencari berkas lainnya yang ada kaitannya dengan lost project ini namun hal terakhir yang kutemukan hanyalah beberapa kertas yang masih kosong tanpa tulisan sedikitpun.

Setelah puas tertidur beberapa saat, kuputuskan untuk melaksanakan ibadah sholat tahajud. Dengan bantuan dari Ilham aku mulai mempelajari ibadah sunah yang satu ini. Kini kuketahui bahwa ibadah ini adalah jenis sholat yang bisa dilakukan sebanyak maksimal delapan rakaat dan sekali salam tiap dua rakaatnya. Setelah selesai aku tinggal menunggu saat menjelang subuh untuk melaksanakan ibadah wajib yaitu sholat subuh. Aku merasa terkesan dengan orang-orang ini yang masih sempat untuk mendekatkan diri pada Tuhan ditengah keadaan yang serba tidak pasti dan tentunya dekat dengan maut.

***

"Incomiiinnggg !!!!!!"
Aku agak tersentak mendengat teriakan dari arah luar masjid ketika kami masih ada didalam untuk membaca Dzikir Almatsurat di pagi hari. Hingga diluar sana mulai terdengar suara letusan senjata. Kami mulai berhamburan mendekati sumber suara teriakan itu sambil membawa senjata masing masing.
"Hey ada apa?" ujarku pada salah satu anggota yang tengah berjaga diluar masjid.
"50 yacd yang datang dari arah selatan !!!" mendengar kalimat itu, regu lainnya mulai menyambar senjata masing-masing. Kulihat disana Arini mulai mendekatiku.
"Kau bisa pakai ini?" tanyanya sambil melempari sebuah M4 Carbine kearahku.
"Akan kucoba"
"Shotgun ada didalam truk senjata jika kau mau ganti senjata" ujarnya sambil mulai menembak.

Suara rentetan senjata dan desingan peluru mulai membahana menghiasi suasana pagi yang dingin dan kelam ini. Baru pukul setengah enam pagi sudah seperti ini saja, untungnya semua anggota keluarga sudah bangun sejak beberapa jam lalu. Kami masih sibuk menembaki monster-monster ini ketika kulihat dikejauhan sana puluhan yacd lainnya mulai mendekat.
"Gunakan senjata berat jika memungkinkan!!!" teriak Kevin pada yang lainnya.
Beberapa saat kami kewalahan hingga terjadi sesuatu yang cukup mengejutkan. Salah satu dari yacd itu menyeret Balqis menjauh dari kami semua.

Jakarta After Doomsday [Part 5 : Arini Siregar. After April 12th]

"Baik, kita sudah sampai di Masjid Istiqlal. Periksa setiap sudut Masjid itu lalu pastikan kalau disana aman, lalu biarkan para keluarga untuk beribadah lebih dulu. Bentuk empat kelompok untuk berjaga-jaga di tiap sudut" Arini memberikan instruksi pada rekan-rekannya yang membawa senjata untuk mulai bersiap-siap sementara Arini sendiri masih kebingungan dengan keberadaanku bersama Balqis. Satu per satu anggota keluarga mulai keluar dari truk mereka masing-masing untuk beribadah secara berjamaah sementara yang sedang berjaga harus menunggu giliran.

***

Menjelang magrib, aku dan Balqis tiba di Masjid Istiqlal. Terlihat disana para anggota konvoi yang membawa senjata tengah berjaga di empat sudut masjid yang berbeda. Arini sendiri datang menghampiri kami setelah sebagian anggota keluarga sudah selesai beribadah.

"Jadi bagaimana? sudah temukan yang kau cari?" Arini agak bingung saat melihatku membawa sebuah kotak.
"Mereka tidak ada disana, aku tidak tahu harus cari mereka dimana lagi"
"Berpikirlah dengan positif, aku yakin suatu hari nanti kalian akan bertemu kembali"
"Ya, aku harap juga begitu dan ngomong-ngomong terima kasih sudah meminjamkan motormu padaku" aku menyerahkan kunci ini pada Arini dan dia pun tersenyum padaku kemudian berlalu meninggalkanku kembali ke truknya.
"Arini" gadis itu masih sempat menoleh saat aku memanggilnya.
"Ada apa?" mendengar balasannya, aku memberitahu namaku padanya.
"Ngomong-ngomong namaku Isa"
"Oke Isa, senang berkenalan denganmu. Silahkan jika kau ingin sholat" ujarnya sambil menunjuk kearah masjid itu.

Malam hari telah tiba dan kami semua berkumpul mengelilingi sebuah api unggun sambil menikmati makanan kaleng yang sebelumnya sudah dibagi-bagikan untuk kami semua disini. Aku merasa agak kasihan juga pada mereka yang rela hanya memakan makanan kaleng yang sudah kadaluarsa demi bisa terus berjuang untuk tiba di Aceh. Sementara aku ... entahlah, mungkin soal waktu sebelum aku akan mati lagi untuk yang kedua kalinya.
"Hey makanlah, kau pasti lapar setelah belasan jam tidak memakan sesuatu" Arini datang menghampiriku yang masih duduk terpaku menatap api unggun tanpa sedikitpun membuka kaleng yang ada ditanganku. Sesaat terdiam hingga dia kembali melanjutkan ucapannya.
"Memikirkan sesuatu selain kedua saudaramu itu?"
Aku hanya terdiam dan masih menatap api unggun itu dengan tatapan mata kosong. Hingga kemudian aku memberanikan diri untuk bicara walaupun dengan suara yang serak.
"Bagaimana kau bisa sampai kesini, apa yang terjadi saat itu?"
Saat itulah Arini menceritakan semuanya dengan lengkap dan juga dengan suara serak sepertiku.

"Empat bulan setelah kejadian 12 April tahun lalu, aku berhasil bertahan hidup setelah sebelumnya berhasil melewati bencana itu dengan bersembunyi di Sanghyang Tikoro, salah satu gua yang jarang dikunjungi wisatawan waktu itu. Saat itu aku kelaparan, tidak ada apapun yang kutemukan yang sekiranya bisa kumakan. Setelah kurasa keadaan sudah mulai aman, aku keluar dari gua itu, kulihat sekelilingku semua hutan, bangunan, fasilitas perkotaan, semua yang kulewati, semuanya sudah tinggal reruntuhan dan semua hutan sudah menjadi gurun. Aku berjalan selama berhari-hari berharap bisa menemukan siapapun namun karena putus asa aku terjatuh dan kemudian pingsan, hal terakhir yang kubayangkan saat itu hanyalah suara gemuruh dan bebatuan yang bergetar saat aku masih didalam gua dan suhu dingin yang tiba-tiba memanas didalam sana. Tadinya kukira aku akan mati didalam gua itu hingga kusadari kalau sebenarnya aku akan mati ditengah jalan ini karena kelaparan."

Aku kini sibuk membuka kaleng ini sambil kembali mendengarkan cerita Arini.
"Saat aku siap unuk kematianku, ternyata aku hanya pingsan. Dan saat kubuka mataku, aku sudah berada didalam sebuah rumah. Tepatnya diwilayah Perumahan Eastern Hills Regency dan disana pula aku berkenalan dengan Pak Bunawar, orang yang sudah menyelamatkanku waktu itu. Dia adalah salah satu orang penting di bandung saat itu. Kota Bandung sendiri dan sekitarnya saat itu sudah dilapisi dinding. Setelah kondisiku mulai membaik aku diperkenalkan dengan anaknya Pak Bunawar, Balqis. Kami sering bermain bersama dari satu area ke area lainnya bahkan hingga ke alun-alun kota"

Aku mulai menyela setelah aku berhasil membuka kalengku dan menenggak kolak basi didalamnya.
"Jika keadaan disana sudah cukup aman, kenapa kalian memutuskan untuk pergi?"

"Waktu itu aku pernah dengar semacam urban legend tentang sekumpulan makhluk berwujud manusia namun sekujur tubuhnya memerah. Berjalan sempoyongan dan menghabisi siapa saja didekatnya, sebagian orang percaya bahwa makhluk itu memang ada. Aku hanya menganggapnya sebagai cerita hantu biasa dan tidak begitu peduli, hingga beberapa bulan kemudian beredar berita bahwa 7 orang tentara yang berjaga disana tewas diserang sekawanan makhluk buas. Saat itulah isu seputar makhluk merah itu mulai merebak kembali diantara para warga. Malam hari dihari ketiga setelah berita itu beredar, aku dan Balqis baru pulang dari bermain, aku merasa curiga dengan keadaan tempat kami tinggal yang sunyi senyap secara tidak wajar. Aku menemukan pesan di pintu rumah yang bertuliskan "segera temui kami di alun-alun kota, ini darurat". Balqis menjerit saat melihat ada tiga orang berkulit merah tengah asik mengunyah beramai ramai tetangga kami. Aku menyerang tiga orang itu dengan peralatan seadanya, walaupun aku juga dibuat terkejut dengan tampang wajah mereka yang terlihat benar-benar menyerupai zombie"

"Aku membawa balqis ke alamat yang tertera di pesan itu. Kulihat disana orang-orang tengah berkumpul dengan ramainya. Dikatakan oleh salah satu dari mereka bahwa semua penduduk akan dievakuasi ke kota-kota besar yang lebih aman. Namun saat kami semua mendengar kabar bahwa dinding bagian timur telah hancur dan telah dimasuki sekawanan makhluk merah itu, para tentara malah pergi begitu saja meninggalkan para penduduk yang kepanikan, berlari kesana kemari mencari cara untuk bisa pergi dari wilayah yang terisolasi itu. Aku dan Balqis sendiri masih berusaha mencari Pak Bunawar namun sia-sia."

"Aku dan balqis berjalan menjauh dan mencari tumpangan pada siapapun yang kami temui. Namun tidak ada yang mau mengajak kami bersama mereka. Pagi harinya setelah berjalan jauh kami bertemu dengan puluhan orang di pinggir jalan yang kebingungan mencari jalan untuk keluar dari kota. Ada dari mereka yang mencoba mencari anggota keluarga mereka yang masih tertinggal dan ada juga yang masih sibuk berdiskusi mencari jalan lain untuk pergi keluar kota. Saat aku mencoba berkeliling melihat sekitar, ternyata belasan makhluk merah itu datang lagi mencoba mendekati kerumunan. Para kerumunan mulai berlarian dengan panik sementara aku sendiri berhasil merampas sebuah motor dan bersama Balqis aku berjalan meninggalkan kerumunan itu."

"Jadi, kawanan yacd ini sudah menguasai setengah dari seisi bagian dalam dinding?"
"Ya begitulah. Aku dan Balqis tiba di sebuah tempat parkiran yang dulu sering digunakan untuk pemberhentian bagi para supir truk, disana aku bertemu dengan beberapa temanku salah satunya Kevin."
"Kevin? Kevin yang mana?"
"Dia disana" Arini menunjuk kearah pria negro yang tadi sempat mengomeliku. Si negro itu sendiri masih sibuk mengunyah isi kalengnya.
"Begitu ya, lalu apa yang kalian lakukan berikutnya?"
"Kami putuskan untuk keluar dari dinding menuju Bandara Soekarno Hatta karena Kevin bilang hanya itu satu-satunya bandara yang masih menyimpan pesawat yang bisa dipakai. Kami mencuri belasan truk dan kendaraan disana lalu kami bergerak mendekati salah satu gerbang dinding sebelah utara. sepanjang jalan kami mengajak banyak keluarga hingga kami tiba disini dan berjumpa denganmu"

Aku sedikit tertegun mendengarnya. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin sekali kuajukan pada Arini. Namun, melihatnya tertunduk sambil menenggak isi kalengnya membuatku berpikir dua kali. Aku hanya terdiam menatap api unggun itu sambil membayangkan bagaimana caranya untuk bisa sampai ke Bandara Soekarno Hatta dengan kepungan dari makhluk-makhluk buas berkulit merah itu.

Disappear (The Journey when I Runaway) [part : 16]


"Selamat datang di mimpi terburuk dalam hidupmu" salah satu dari mereka yang berambut gondrong menyambutku dengan kalimat ancaman. Dibelakangnya sudah berdiri lima orang anggotanya yang sudah mengepungku sementara aku sendiri terpojok disini disudut ruangan. Senjata tidak ada sementara jumlah mereka terlalu banyak."Jangan kira lu bisa parkour-an disini, penjara ini terlalu sempit kalo lu ngerasa lu bisa kabur" si pendek botak juga ikut mengancamku, aku hanya berpaling dan tidak mau melihat mereka. Tiba-tiba si gondrong tadi mulai menjambak rambutku dan berteriak didekat telingaku.
"Lu nggak usah sok disini, mulai hari ini lu adalah anjing, dan tali kekang lu gua yang pegang, ngerti!!!?"
Bosan terhadap makian itu, aku mendorongnya hingga tersungkur. Aku mencoba sebisaku menghajarnya namun lima orang lainnya menyeretku dan menginjak-injak tubuhku sementara si gondrong mulai mendekatiku dan menghajar wajahku habis-habisan. Selama empat jam mereka menghajarku tanpa henti, dan kini aku sadar apa yang dikatakan Ama, aku harus bertahan hidup setidaknya sampai besok sore, ya sampai Ama datang untuk menemuiku. Aku mencoba untuk kuat sebisaku walaupun harus kuakui mungkin lebih baik mati saja daripada tersiksa begini. Sepanjang malam aku kesulitan tidur, mereka berenam tidur mengapar dengan seenaknya hingga menutupi seisi lantai sementara aku harus berdiri dan tidak diperbolehkan berbaring, kecuali jika aku sanggup untuk menerima hantaman tangan mereka lagi.

Tidak hanya di malam hari, siang hari pun mereka asik melempariku dengan benda-benda yang bisa mereka lempar kearahku. Bahkan di kantin pun mereka sengaja muntah kearah piring makan siangku. Aku tidak bisa berbuat banyak karena jumlah mereka ada puluhan, bahkan belum termasuk para sipir yang tidak suka dengan kehadiran napi baru sepertiku. Sepanjang sore aku harap harap cemas, berharap agar Ama datang untuk menemuiku namun hingga jam malam dia tidak kunjung muncul juga, terus seperti itu selama dua hari. Dan selama dua hari itu pula, seperti malam pertama aku mendekam, orang-orang di selku sibuk mengeroyokku. Ibarat kata samsak untuk tinju, mereka seolah tidak bosan-bosannya menghajarku. Bisa dipastikan sudah seperti apa wajahku sekarang.
Hari ketiga seorang sipir menemuiku, dia bilang ada tamu yang ingin mengunjungiku. Akh, paling-paling hanya orang tuaku yang datang cuma untuk mengocehiku. Ternyata benar, mereka berdua datang dan sudah menungguku di meja kunjungan. Aku menyambut mereka dengan wajah masam sementara mereka agak terkejut melihat wajahku yang penuh memar menghitam.
"Kamu nggak pa pa nak, muka kamu kenapa?" mama memulai obrolan ini, dengan sangat sia-sia tentu saja.
"Ngapain kalian dateng kesini, Indra kira Indra udah bukan anak kalian lagi"
"Kamu nggak boleh ngomong gitu, mama sama papa masih sayang sama kamu. Seharusnya kamu nggak boleh pergi jauh-jauh dari rumah apalagi sampai ke Jakarta terus nggak pulang-pulang"
"Masih sayang? setelah kalian lebih sibuk berantem tanpa peduli sama anak kalian sendiri?"
"Tentu aja mama peduli, malah Vika tiap malem nangis terus gara-gara kamu pergi lama" ya ampun, mama bahkan masih sempat membicarakan adikku yang masih kecil.
"Halah, palingan kalian pesta pora disana karena satu beban udah berkurang dari hidup kalian"
"Eh anak sialan, masih untung kita mau kesini buat ngunjungin kamu!" papa yang sejak tadi diam mulai menghardikku, namun karena meja ini diberi pembatas berupa kaca tebal antara sisi untuk pengunjung dan sisi untuk tahanan papa tidak bisa memukul wajahku. Membuatku semakin leluasa menghujat-hujat mereka dengan berlinang air mata.
"Tapi Indra nggak pernah ngarepin kehadiran kalian disini, Indra bahkan jauh lebih suka tinggal di bantaran kali ciliwung yang kumuh ketimbang harus tinggal ditempat yang bahkan tidak suka dengan kehadiran Indra!!!" seisi ruangan kunjungan menatap kearahku yang tadi sempat teriak-teriak. Membuat salah satu sipir menepak kepalaku dan menyuruhku untuk tidak berisik.
"Kamu masih marah sama temen-temen kamu yang udah nge-bully kamu disekolah ya?" mendengar kalimat itu, kedua tanganku memukul meja dengan keras.
"JANGAN SEBUT-SEBUT MEREKA LAGI !!!" mama terdiam mendengar wajah marahku kearah mereka untuk pertama kalinya. Selebihnya aku hanya diam dan menutup wajahku tanpa peduli sudah berapa lama mereka mengoceh dan ocehan apa saja yang keluar dari mulut mama.
"Oke waktu kunjungan sudah habis, semua tahanan kembali ke sel masing-masing. Lu juga, daritadi teriak-teriak melulu. Balik lagi ke sel lu sono!" seorang sipir menyeretku kembali ke sel. Kulihat disana mama dan papa berusaha memohon pada kepala sipir untuk membebaskanku lebih awal dan bersedia membayar denda berapa banyak pun jumlahnya termasuk menyodorkan uang ekstra sebagai sogokan. Namun kepala sipir itu malah mengusir mereka dengan sombong dan kasar. Ya, tidak lain adalah karena si sipir sudah disogok oleh Orang Tua Dimas. Setidaknya itulah satu-satunya spekulasi yang muncul di pikiranku.

Aku kembali ke sel ku dan kudapati sel ku dalam keadaan sepi. Enam orang bajingan itu sedang di lapangan dan sel ini sendiri dibiarkan terbuka. Aku masih ingat saat semalam si gondrong sempat menusuk mataku dengan seutas kawat panjang yang tipis namun sangat kuat. Kawat itu disimpannya di dalam kasur, buru-buru aku mengambil kawat itu dan menyembunyikannya kedalam bajuku.
"Heeh ngapain didalam sel, cepet keluar! ini jam bermain diluar bukan ngendep didalam sel!" seorang sipir menyeretku keluar dengan kasar. Berang menerima perlakuan itu aku menghajar sipir itu. Alhasil, belasan sipil lainnya datang untuk mengeroyokku habis-habisan. Tak lama kemudian Ama datang dan menyeretku setelah sebelumnya Ama ikut menghajarku.
"Heh Ma, mau lu bawa kemana tuh tahanan?" salah satu sipir heran melihat Ama menyeretku.
"Bacot lu, mau gua kebirin dia sendirian!"
"Yaudah jangan lama-lama. Bawa dia ke lapangan pas lu udah puas ngentotin dia hahahahahaha" sipir itu tertawa yang juga diikuti gelak tawa dari sipir lainnya. Saat sebelum jauh, salah satu sipir melempariku dengan pentungannya, tepat mengenai selangkanganku.

"Indra, gila lu. Apa apaan itu barusan pake nantangin sipir segala. Gua nyuruh lu buat bertahan bukan buat cari gara-gara" Ama berbisik padaku ketika kami sudah berada diatas loteng dekat atap.
"Lu sendiri janjinya mau nemuin gua pas jam sore dua hari lalu, tapi baru sekarang lu nemuin gua. Lu sadar nggak emak sama bapak gua tadi ngunjungin gua. Mana lu tadi pake ikutan mukul gua lagi"
"Oke, maaf udah kelamaan. Sebelumnya gua jelasin dulu aktifitas di penjara ini dan siapa aja orang-orang yang harus lu hapalin" Ama mengeluarkan sebuah map berisi arsip dari beberapa tahanan yang akan dijelaskannya padaku. Sepuluh menit Ama menungguku selesai membaca dan setelah selesai aku menyerahkan arsip itu pada Ama.
"Oke udah gua baca semuanya, nama-namanya, asal usulnya, reputasinya, lokasi selnya, semua udah gua baca. Sekarang apa?"
"Ya, mereka semua punya satu persamaan yaitu sama-sama musuh besar Gagak Hitam. Walaupun sebenarnya mereka tidak pernah saling menyukai satu sama lain. Mereka adalah daftar yang harus lu waspadain karena mereka orangnya ngawas banget sama napi baru. Udah belasan napi mati disini ditangan mereka, "
"Oke apa lagi?"
"Jadwal pagi adalah baris-berbaris dan kegiatan harian setelah sarapan pagi, terus siang harinya makan siang lalu jam santai di lapangan sampai sore. Menjelang magrib semua tahanan bakal didata sebelum dimasukin lagi ke sel nya masing-masing. Tiap seminggu sekali dihari sabtu bakal ada kapal besar pengangkut pasokan untuk sipir dan tahanan. Sebagian kecil sipirnya sendiri sebenarnya juga orang dalam dari masing-masing kelompok mafia sama kayak gua. Makanya gua nggak boleh sampe terlalu deket sama napi biar nggak ketahuan. Banyak yang bilang kalo disini sipirnya ramah-ramah dan aktifitas pembinaannya sangat ramah. Tolong jangan percayain itu semua, sipir disini bengis semua dan satu-satunya saat-saat aman adalah saat sesi pembinaan dan pembimbingan. Selebihnya lu harus bertahan hidup lagi. Kalo ketahuan bertindak anarkis lu bakal dikurung di sel baja dengan tangan dan kaki terikat selama empat hari."
"Gimana struktur bangunannya?"
"Temboknya ada tiga lapis yang masing-masing dilapisin beton, bagian atasnya kawat berduri. Tiap menara disini enam orang sniper. Kamera CCTV dipasang sembunyi-sembunyi dan diawasi oleh satu operator di ruang teknisi. Akses keluar masuk yang aman cuma di wilayah sekitar pelabuhan karena selain wilayah itu, semua area pinggir pulau dipasangin detektor. Di pinggir pulau juga ada lapangan beton kecil sebagai helipad rahasia untuk kunjungan istimewa."
"Oke, nanti gua pikirin gimana caranya bisa kabur dari sini, terus si Aldo sendiri gimana? gua udah liat dia sebelumnya di ruangan Pak Torro jadi kasih tau aja dia di sel mana"
"Biasain aja bertahan atau kalau bisa berhasil hajar orang-orang di lapangan tiap jam sore. Lu nggak akan ngedapetin Aldo, Aldo yang bakal ngedapetin lu"

Disappear (The Journey when I Runaway) [part : 15]

Tidak ada lagi pilihan lain, aku mengangkat tanganku karena terlalu banyak polisi yang mengepungku jika aku harus lari lagi. Lagipula sejak pagi tadi memang ini yang kuinginkan. Masuk ke penjara dan membebaskan satu orang target didalamnya, ini semua harus selesai dengan cepat karena aku tidak bisa meninggalkan Bayu dan Nindy terlalu lama. Kulihat disana-sini ada banyak orang yang melihat termasuk beberapa wartawan yang meliput kejadian ini. Aku tidak terkejut jika nanti mungkin mama dan papa akan datang ke kantor polisi untuk menemuiku. Aku hanya berharap aku tidak perlu pulang bersama mereka. Bayu sedang sakit sementara Nindy sendirian dirumah, terlalu lama meninggalkan mereka maka aku akan terlibat masalah yang jauh lebih buruk. Sepanjang perjalanan ke kantor polisi hingga saat aku selesai diinterogasi, aku hanya memasang tampang datar dan tidak banyak berujar. Sekalipun banyak polisi disini yang memaki-makiku karena tidak banyak bicara, aku tetap tidak peduli karena aku berusaha menjaga jangan sampai mereka tahu tujuan utama aku melakukan semua ini. Karena bosan denganku mereka kini mengurungku kedalam sel dan mengatakan padaku bahwa sidang akan dimulai tiga hari lagi. Ini pertama kalinya aku mendekam dibalik jeruji besi sehingga aku sendiri tidak tahu kalau menunggu di sel selama tiga hari itu tergolong lama atau singkat.

Hari yang dimaksud telah tiba. Orang tuaku, para guru di SMP, anak-anak KC keparat itu, lengkap dengan Orang Tua Dimas datang ke pengadilan untuk menyaksikan vonis yang akan aku terima. Aku sendiri datang dengan mengenakan pakaian tahanan dan dalam keadaan diborgol. Semua agenda persidangan telah kulalui dan membuatku sedikit terkejut adalah dugaanku yang ternyata benar. Ya, Dimas benar-benar mati ditanganku waktu itu saat dia menghajarku. Selain itu satpam yang sebelumnya pernah kuhantam waktu itu juga dimasukkan kedalam daftar korbanku walaupun si satpam masih hidup dan sudah sembuh. Lalu polisi juga menyebutkan tuduhan kejahatan lain berupa pengedaran narkoba bersama Imam yang sampai saat ini masih buron serta penganiayaan terhadap sejumlah orang yang semuanya adalah preman. Atas semua yang telah kulakukan akhirnya aku dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara dan tidak akan dikirim ke penjara bawah umur mengingat jumlah kejahatan yang kulakukan. Pengadilan telah selesai dan aku sudah siap dibawa ke mobil pengangkut tahanan ketika beberapa bajingan KC itu melempariku dengan botol minuman.
"Jangan lu kira ini semua udah selesai, cong!!!"
"KC nggak akan tinggal diem, inget itu!"
"Lu nggak bakal tenang sampe leher lu dipenggal didepan makam Dimas!"
Dan masih banyak umpatan caci maki yang keluar dari mulut mereka yang masih bau kencur tapi sudah sok hebat itu. Aku tidak menunjukkan reaksi apa-apa dan hanya berjalan dengan tenang berharap agar aku tidak dikirim ke penjara selain Nusakambangan. Benar saja, aku sempat melirik sebuah arsip bertuliskan namaku ketika aku sudah masuk mobil tahanan, dan ada tulisan 'Nusakambangan' disana. Baiklan, setelah tiba disana aku harus pikirkan rencana lainnya.

Perjalanan telah berlalu selama ... entahlah mungkin sudah lebih dari puluhan jam, aku tidak ingat. Aku juga bahkan lupa saat kami tiba di Dermaga Wijaya Pura, yang jelas satu-satunya yang kusadari saat ini adalah aku bersama tahanan lainnya sedang berbaris untuk didata sebelum kami dimasukkan ke sel masing-masing. Bau amis dimana-mana, beberapa tahanan dihajar dan disiksa, disuruh telanjang dan dipotong tindikannya, huh ternyata bantaran Kali Ciliwing bahkan suasananya masih lebih baik ketimbang disini. Giliranku telah tiba, setelah ditelanjangi aku dikelilingi beberapa sipir dan salah satu sipir itu membacakan data-data tentang kasusku.
"Indra Alamsyah, kabur dari rumah setelah membunuh teman SMP-nya dan menganiaya satpam-nya sendiri. Begitu tiba di Jakarta malah jadi pengedar narkoba dan biang rusuh" sipir itu mendekat kearahku.
"Lu dendam sama keluarga lu atau lu udah bosen jadi anak baik-baik? lu sekarang punya masalah sama Jakarta, tau!?" aku hanya melirik kearah lain berusaha berpaling sementara sipir lainnya mulai menekan pentungan mereka ke setiap bagian tubuhku.
"Lu liat mata dia saat dia lagi ngomong ama lu!!!" sipir lainnya ikut memaki lalu si sipir yang bicara denganku tadi kembali mengancamku.
"Diluar sana mungkin lu adalah jagoan, tapi disini bukan Jakarta. Ini neraka dan gua iblisnya. Lu cuma penghuni tetap jadi jangan coba-coba jadi jagoan disini" muak mendengar ucapannya aku menghantam keningku ke hidungnya. Darah segar bercururan sementara sipir lainnya mengeroyokku habis-habisan. Aku bisa mendengar kalimat terakhir dari si sipir yang tadi kuhajar.
"Bawa anjing ini ke sangkarnya sebelum dia menggigit lebih banyak orang"

Salah satu sipir memakaikanku pakaian napi dan membawaku ke sebuah sel, sesaat aku terdiam saat si sipir mulai bicara padaku dengan berbisik.
"Kamu kerja untuk Pak Torro ya?"
"Kamu ngomong apa?"
"Jangan persulit diri kamu sendiri, jawab aja apa benar kamu kerja untuk Pak Torro?"
"Apa hubungannya sama kamu?"
"Kamu nggak ngerti, aku juga kerja untuk Pak Torro sebagai orang dalam disini. Untuk saat ini kita akan jadi mitra jadi turutin aja apa kata aku kalau kamu nggak mau kutembak"
"Kenapa kamu nggak bebasin aja sendiri si Aldo, kenapa harus ngelibatin aku?"
"Bukan cuma keselamatan Aldo dan Pak Torro yang dipertaruhkan disini, tapi juga nyawa aku sendiri dan keselamatan kelompok Gagak Hitam apalagi ada banyak napi disini yang termasuk kedalam daftar musuh besar Pak Torro. Kalo mereka tau siapa aku, aku bisa dibunuh"
"Nama kamu siapa?"
"Aku Ama, dan aku udah tau siapa kamu Ndra"
"Oke apa aja yang perlu aku tau soal penjara ini"
"Besok sore aku jelasin semuanya, untuk hari ini kamu cuma perlu bertahan sampai kita bertemu nanti. Dan aku nggak perlu lagi jelasin ke kamu kalau kamu cuma punya waktu tiga puluh hari untuk nyelametin Aldo atau kamu akan dikurung disini selamanya"
Ama sekarang membawaku ke sebuah sel ukuran enam kali empat yang diisi oleh enam orang napi.
"Semoga berhasil" hanya itu dua kata yang diucapkan Ama sebelum dia meninggalkanku. Kini aku dikelilingi oleh enam orang yang ternyata adalah anggota kelompok KC yang sudah tidak sabar ingin menghajarku beramai-ramai disini.

Disappear (The Journey when I Runaway) [part : 14]

Seminggu sebelum aku menghilang ...
Sejak pertama kali masuk SMP, aku memang sering terlibat masalah dengan Dimas. Dimas adalah salah satu anggota geng 'KC', geng di SMP kami yang terkenal sebagai satu dari lima geng paling meresahkan di wilayah tempat tinggalku. Secara teknis menurutku Dimas tergolong anak yang pengecut karena hanya berani menggangguku ketika dia sedang bersama dengan anggota geng lainnya. Setiap hari dia selalu menodongku dengan sebilah pisau lipat kecil dan tak segan-segan dia akan menyayat tanganku jika aku tidak memberikan uang setoran padanya. Tak terhitung sudah berapa banyak sayatan di tanganku karena tidak memberinya uang setoran. Mau bagaimana lagi, uang yang kupunya hanya cukup untuk ongkos pulang pergi bahkan jajan saja tidak pernah. Semakin hari aku semakin tidak tahan dengan perlakuannya hingga suatu hari saat aku sedang berjalan bersama dengan sahabat baikku Jun, Dimas datang lagi bersama komplotannya bermaksud untuk merampas semua uang dan isi tas yang aku punya. Tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam maksudku ayolah, aku tidak sudi dipermalukan dihadapan sahabatku. Dimas semakin mendekat bersama tiga orang komplotannya dan aku sudah siap atas apa yang akan terjadi.

"Woy Indra, sini setoran lu!"
"Gua nggak bawa apa apa hari ini"
"Halah banyak alesan lu. Dimas, seperti biasa bro" Ilham mulai mengeluarkan pisaunya. Ilham yang merupakan salah satu komplotan Dimas juga merupakan salah satu dari mereka yang paling kubenci karena sifat sok-nya dan merasa harga dirinya paling baik. Padahal bagiku dia sama pengecutnya dengan Dimas.
"Yoi, Ham" Dimas mengambil pisau lipat dari tangan Ilham. Bersamaan dengan itu aku melepaskan dasiku dan dengan cepat kugunakan untuk mencekik Dimas. Ilham dan dua orang lainnya sudah siap pasang kuda-kuda sementara aku sudah siap untuk menggertak mereka.
"Mundur, atau Dimas gua cekek sampe mati" mendengar ucapanku mereka malah tertawa.
"Hahahahahaha mana lu berani cong" umpat mereka padaku. Kutendang Dimas kearah mereka dan kurampas pisau lipat itu dan aku melemparnya jauh-jauh.
"Ndra, lu yakin mau ngelakuin ini?" Jun terlihat panik saat aku mulai mendekati mereka.
"Jun lu mundur sekarang dan biarin gua selesaiin ini semua untuk selamanya"
Perkelahian sudah terlanjur dimulai. Sepuluh menit berkelahi di koridor ini dan mereka kewalahan menghadapiku karena secara fisik tubuhku lebih tinggi dari mereka. Namun karena memang dasar merekanya yang anak geng, satu per satu anggota mereka yang lain mulai berdatangan lengkap dengan sabuk besi mereka yang berukuran besar-besar. Aku tidak sempat kabur karena Ilham memegang kakiku. Aku terpeleset dan dengan liar mereka mengerubungiku dan mengeroyokku. Karena kalah jumlah aku terkapar dan jadi bulan-bulanan mereka. Tubuhku terasa berat, wajahku baik-baik saja namun tubuhku penuh memar dan luka. Tanpa perlu waktu lama petugas BK datang dan meringkus kami semua. Orang tua kami pun dihubungi dan tak lebih dari sepuluh menit para orang tua datang, termasuk mama.

Para guru dan para orang tua termasuk mama mulai berdebat disana, aku hanya bisa cemberut sambil berusaha menutup telinga karena bosan mendengar argumen omong kosong mereka semua. Walaupun sebenarnya aku masih bisa mendengar hal macam apa yang mereka bicarakan sampai para guru mulai membuat keputusan. 'Aku dinyatakan bersalah?' tapi justru aku yang teraniaya disini, apa mereka sudah gila? kulihat Dimas memberi isyarat padaku dengan gerakan telunjuk di lehernya. Isyarat yang berarti dia akan mengulangi lagi perbuatannya padaku.
Aku dipulangkan lebih awal hari ini dan mama sudah diingatkan jika aku kembali terlibat masalah maka aku akan disuruh membuat surat perjanjian, sepanjang jalan mama sibuk mengocehiku dan mengatakan kalau aku selalu membuat masalah. Tanpa memperdulikan ocehan mama dari kejauhan kulihat orang tua Dimas memberikan sebuah bungkusan berwarna cokelat berisi uang dalam jumlah banyak pada kepala sekolah. Sial, mereka pakai cara licik rupanya, pantas saja malah aku yang disalahkan. Ingin kukatakan ini pada mama tapi mama sendiri tidak mau mendengarku.

Dua hari kemudian saat pulang sekolah, lagi-lagi Dimas mencegatku ditengah jalan. Merasa kebal hukum, dia datang sendirian dengan sebilah stik baseball bermaksud untuk menghajarku lagi."Tumben sendirian, kompotan lu mana atau lu pengen coba bonyok sendirian disini?"
"Banyak bacot lu!" secepat kilat Dimas mengayunkan stiknya ke rahangku hingga tersungkur, dalam keadaan terkapar lagi-lagi aku jadi bulan-bulanan Dimas. Didekat wajahku ada sebongkah batu besar. Tanpa ambil pusing aku menendang kaki Dimas hingga dia tersungkur, sebelum Dimas berdiri aku menghantam kepalanya dengan batu tadi. Darah hitam bercucuran dan Dimas sendiri tak sadarkan diri. Aku mulai panik melihatnya, kutendang jauh stik itu dan aku mengguncang-guncangkan tubuh Dimas.
"Dimas, woy cong bangun napa? Dimas !?"
Oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan? bagaimana kalau Dimas benar-benar mati ditanganku? karena panik kuseret tubuh Dimas dan kubiarkan terkapar ditengah jalan sepi ini agar orang berpikir kalau Dimas ditabrak mobil. Aku pulang kerumah dengan penuh ketakutan, hal mengerikan ini menghantuiku selama seminggu penuh, aku sendiri masih ingat kejadian ini setidaknya sampai aku melupakannya ketika aku sudah pergi dari rumah.

***

"Bos, ada orang yang udah hajar kita pas tadi kita malakin orang-orang yang punya toko"
"Njing, cari mati tuh orang. Emang dia siapa"
"Dia pake jaket tebel trus pake topi item, itu dia orangnya"
Para berandalan yang sedang asik dilantai dua menatap kearahku yang sudah ada digerbang mall ini. Buru-buru mereka turun ke lantai dasar dan mengepungku, lalu beberapa lama kemudian si pemimpin mereka datang menghampiriku. Ternyata benar, dia orang yang sama yang selama ini sering terlibat masalah denganku.
"Halah elu lagi, lu emang nggak pernah bosen ya cari perkara ama gua. Udah sok nolongin Imam, belagu buat belain temen pengamen lu itu, sekarang pake nantangin gua. Jangan harap bisa kabur hari ini"
"Gua nggak akan kabur kali ini, karena semuanya bakal selesai hari ini"
Perkelahian pun dimulai, satu orang melawan belasan begundal jalan raya. Seisi mall ini berhamburan keluar melalui pintu darurat. Para satpam pun dibuat babak belur oleh mereka para preman pasar yang tidak ingin diganggu. Aku benar benar sendirian saat ini, terhuyung-hunyung melepaskan serangan kearah mereka akibat sekujur tubuh yang sudah hancur lebur akibat hantaman benda tumpul yang mereka bawa. Satu jam telah berlalu dan berkat sepasang linggis yang kubawa, aku berhasil menjatuhkan mereka satu per satu termasuk bos mereka. Sekuat tenaga aku berusaha berdiri menghampiri bos mereka, tangan kiriku menjambak kerah baju pimpinan preman ini dan tangan kananku mengangkat linggis bersiap untuk menghantamkannya ke wajah preman ini. Tiba-tiba aku terkejut bukan kepalang, saat aku melihat wajah preman ini dalam keadaan pasrah dan berlumuran darah, yang terlihat dimataku justru wajah Dimas yang pucat dan terlihat seperti akan mati. Astaga, lagi-lagi mimpi buruk ini kembali. Dalam keadaan panik tanganku melemah membuat linggis yang kupegang terjatuh.

Kurasakan preman ini seperti masih punya harapan untuk hidup. Kuseret preman ini ke pojokan dan aku berlari keluar meninggalkan preman ini bersama para anak buahnya sendirian didalam mall yang sudah kosong ini. Betapa paniknya aku saat kulihat keadaan diluar. Polisi, POL PP, hingga beberapa orang dengan pakaian tentara tengah menodongkan sinar laser dari senjata mereka, langsung mengarah tepat ke keningku.

Disappear (The Journey when I Runaway) [part : 13]

Jaket tebal sudah dipakai, topi hitam ini sudah menutupi kepalaku, dua batang linggis yang kupakai selama ini sudah siap, sepatu boot sudah terpasang di kedua kakiku, slayer untuk menutup wajah sudah siap di saku celana. Begitu aku melangkah keluar dari rumah ini, tidak ada jaminan berapa lama aku bisa bertahan diluar sana, atau apakah aku akan menetap disana selamanya sebagai orang paling hina? Setelah kukunci pintu rumah ini dan menyerahkan anak kuncinya pada Nindy, gadis kecil ini memeluk erat tubuhku dengan sedikit terisak.
"Kakak harus janji kalau kakak nggak bakalan pergi lama"
"Kakak bukan sekedar janji, Kakak bersumpah kalau kakak akan kembali untuk Nindy setelah ini selesai bagaimanapun caranya" kuusap kepala Nindy, aroma wangi rambut hitam itu menelusuk masuk kedalam hidungku. Puas memeluknya dengan erat, aku berangkat menuju Stasiun Manggarai. Nindy terlihat tertegun melihatku berjalan dengan kepala tertunduk.

"Eh Indra, ada perlu apa nih dateng kesini. Hayo kita minum-minum dulu" salah satu gelandangan temannya Bayu yang bernama Edi menyapaku ketika aku datang menghampiri mereka yang sedang memojok di pinggir stasiun ini.
"Maaf Ed aku lagi ada kerjaan penting, boleh aku tahu siapa yang nyakitin Bayu waktu itu?"
"Kamu mau apa emangnya Ndra? Kamu nggak bakal macam-macam kan?"
"Ed nggak ada waktu buat aku berlama-lama disini. Kasih tau aja biar aku bisa langsung pergi"
"Ndra aku tahu perasaan kamu, tapi Nindy ..." belum sempat Edi melanjutkan ucapannya aku sudah lebih dulu menjambak leher bajunya dan mendorongnya ke tiang. Sebagian teman-teman Edi menodongkan masing-masing satu belati kearah leherku.
"Aku udah bilang aku nggak punya banyak waktu"
"Aku nggak tahu siapa mereka, kita cuma sering ketemuan terus berantem nggak jelas di beberapa gerbong kereta" mendengar ucapan itu aku mulai mencekiknya.
"STASIUN MANA !!!???"
"Nggak tau, yang aku inget waktu itu mereka pernah bilang ke Bayu untuk selalu nyetor ke mereka tiap kali Bayu melintas ke wilayah Cilacap dan Pegangsaan Barat apalagi sampai masuk ke area Universitas Bung Karno. Cuma itu yang aku inget, sumpah" mendengar ucapan itu aku tertegun karena aku merasakan kalau aku juga pernah bermasalah dengan para penguasa wilayah itu, aku yakin orang-orang ini adalah orang yang sama yang pernah mengejarku waktu itu.
"Stasiun Cikini" ujarku pendek, aku melepaskan tanganku dari leher Edi dan berjalan menjauh dari stasiun ini ketika ada satu kereta yang datang. Aku masuk kedalam kereta iu dan menghilang diantara kerumunan penumpang.
"Indra tunggu, aku belum kasih tau sesuatu ke kamu, Ndra !!" aku tidak memperdulikan suara Edi saat kereta yang kunaiki sudah mulai berjalan.

Jarak antara Stasiun Manggarai dengan Stasiun Cikini tidak begitu jauh. Baru sesaat aku mempersiapkan diri, kereta tersebut sudah sampai di stasiun ini. Sesaat setelah aku keluar dari kereta aku melihat sebuah koran disebuah tempat yang menjual majalah. Dibagian pojok koran itu ada sebuah opini yang mengarah ke halaman belakang di koran itu. Judul opininya 'Pulanglah Indra, kami merindukanmu' ada beberapa isi dari artikel itu yang masih kuingat.

"Indra, sudah berhari-hari kamu menghilang dari rumah. Bukan hanya orang tuamu yang merindukanmu, tapi juga seluruh teman-temanmu bahkan kami para guru-guru disini juga sangat mengkhawatirkanmu. Jika kamu membaca pesan ini dimanapun kamu berada, kami berharap kamu bersedia untuk pulang kerumah agar kita bisa berkumpul kembali dan berbagi canda tawa bersama seperti dulu. Salam rindu dari kepala sekolahmu, Rida Nurhayati"

Cih! Canda Tawa!? omong kosong menyedihkan macam apa itu!? satu-satunya yang kalian bagikan bagiku hanyalah penderitaan dan rasa sakit hati. Ya, kalian memang merindukanku. Merindukanku untuk bisa menyakitiku lagi seperti dulu, iya kan!? Jangan harap kalian bisa mendekatiku untuk menyakitiku lagi setelah kutemukan satu dunia yang masih lebih menghargaiku ketimbang kalian, ingat itu !! Tapi menurutku ini lumayan. Lumayan untuk memacu amarah dalam hatiku untuk menghabisi para bajingan yang telah menyakiti Bayu. Sekarang tinggal mencari mereka, namun sepertinya aku tidak perlu repot-repot karena mereka semua sudah ada disini ketika kulihat mereka sedang asyik memalak beberapa pemilik toko. Aku sudah siap untuk aksiku saat salah satu dari mereka berteriak sambil menunjukku.
"Woy, itu dia si anjing yang waktu itu !!"
Dengan gaya perlahan, mereka berjalan mendekatiku sambil menyiapkan celurit.
"Masih berani lu dateng kesini, gua kira lu udah mampus, cuih!!"
"Gua denger dua hari lalu kalian ngeroyok anak-anak pengamen dari wilayah Pluit"
"Oh jadi selain partner si goblok Imam, lu juga anak wilayah pluit?ada hubungan apa lu ama si pengamen pendek keriting yang suka nyeker itu"
Ternyata mereka juga tahu kalau Imam adalah yang waktu itu kuselamatkan dari mereka, eh tunggu. Pendek, keriting, nyeker alias tanpa pakai alas kaki. Cuma Bayu satu-satunya yang punya ciri-ciri itu.
"Jawab pertanyaan gua, siapa yang udah nyakitin pengamen itu!?" mendengar ancamanku mereka malah tertawa terbahak-bahak.
"Eh kunyuk, apa urusan lu kalo salah satu anak-anak ngeroyok temen cebol lu itu"
Panas mendengar ucapan itu, dengan cepat linggis di tangan kananku mendarat di rahang preman ini. Terkejut melihat tindakanku, mereka semua mulai menghajarku dan memanggil rekan-rekan mereka. Jumlah mereka yang berdatangan semakin banyak.
"Eh bocah, cari mati lu di wilayah macan hitam, hah !!?"
Jadi mereka menamai diri mereka 'geng macan hitam'? tidak berarti apa-apa bagiku sejauh ini. Dengan asiknya aku kembali menghajar mereka semua tanpa mempedulikan para pengguna jalan yang asik menyaksikan 'tontonan gratis' ini. Seperempat jam berlalu dan mereka semua terkapar dalam keadaan kepala penuh darah, termasuk pula aku. Namun amarah di hatiku mengalahkan rasa sakit di kepalaku yang mengalami pendarahan hebat. Kudekati salah-satu dari mereka, ya dia yang tadi mengejekku. Kudekatkan ujung linggisku ke mata kanannya.
"Jadi gimana? udah keluar kunci jawabannya?"
"Mereka disana" mereka menunjuk ke Cikini Gold Center. Cih! memangnya mereka mau beli emas?
"Sebaiknya kau benar, keparat" aku memukulnya satu kali sebelum kutinggalkan preman ini.
Bermodal informasi tadi, aku melanjutkan langkah kakiku. Para warga yang melihat kami semakin riuh dan cemas, salah satu dari mereka mencoba mengingatkanku tapi aku tidak peduli karena aku sudah mulai terbiasa dengan tindakan bodoh yang menyenangkan ini.

Jakarta After Doomsday [Part 4 : Back to Home and Found the Clue]

Sudah setengah jam aku berkendara bersama bocah kecil bernama Balqis ini. Sepanjang jalan ini yang terlihat hanya kendaraan-kendaraan yang berserakan di trotoar. Bangunan-bangunannya sendiri juga sudah lama hancur dan tertutup debu. Sepertinya aku harus terima kenyataan bahwa kota besar ini sudah lama tak dihuni oleh 'manusia yang masih normal'. Rasa yakinku bahwa dua orang saudaraku masih selamat mulai berkurang. Apalagi sepanjang jalan ini kulihat beberapa Yacd dipinggir jalan tengah berjalan sempoyongan sembari menatap kami. Sejauh ini mereka bukan ancaman kami mengingat kami berdua mengendarai sepeda motor dengan cepat dan juga membawa senjata, lagipula tidak banyak dari mereka yang terlihat walaupun harus kuakui keberadaan mereka juga tidak bisa diremehkan.

Tiba di tujuan kami memarkirkan motor kami masing-masing dan mulai mendobrak masuk kedalam. Balqis sendiri kelihatan tertegun melihat rumahku yang sudah tak berpenghuni ditengah perumahan diwilayah Kelapa Gading yang sekarang lebih terlihat seperti padang pasir yang tandus.
"Asyam, Fajrin, aku pulang, kalian dimana?"
Tak ada jawaban dari teriakanku sejauh ini. Aku berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lainnya dari lantai satu hingga lantai dua. Balqis sendiri sibuk menodongkan shotgun-nya ke setiap sudut gelap. Seisi rumah ini sudah acak-acakan, beberapa lemari juga berantakan dan terbuka begitu saja. Aku mulai berpikir apa iya mereka berdua sudah lebih dulu pergi sebelum bencana itu tiba? tanpa sengaja aku menginjak sesuatu saat masuk kedalam kamar Asyam, sebuah kotak tak tertutup yang berisi dua buku binder, sebuah handycam, dan satu pistol Barreta 92 yang terisi penuh. Aku tidak mengerti kenapa mereka berdua menyimpan buku didalam kotak padahal yang aku tahu mereka berdua tidak pernah menulis apapun di buku binder, dan darimana mereka dapat pistol ini? ada suara geraman yang terdengar dilantai bawah, semakin lama geraman itu semakin jelas.
"Balqis, kamu masih dibawah situ?"
Tidak ada satupun senjata yang kubawa dan Balqis sendiri tidak menjawabku sejak tadi, padahal hanya dia yang pegang senjata. Perlahan-lahan aku menuruni tangga mencoba untuk tidak bersuara, namun saat aku melihat sekeliling lantai bawah, suasananya masih sehening tadi. Setidaknya sampai aku ditarik kedalam sebuah kamar secara tiba-tiba hingga tersungkur.
"Dasar bocah, bikin kaget saja" aku menggerutu saat kusadari kalau yang tadi menarikku adalah Balqis.
"Pssst jangan berisik" Balqis membekapku sambil mengarahkan moncong senjatanya kearah luar rumah melalui celah-celah dinding. Kulihat dari celah itu ada satu Yacd yang mencoba berjalan masuk kearah rumah.
DHAR ... !!!
Satu tembakan mendarat tepat dikepala makhluk merah itu, terlihat Yacd itu menggelepar sebelum tubuhnya meletus. Kami berdua keluar dari rumah dan melihat sisa tulang dari Yacd itu. Kami menghembuskan nafas lega mengetahui kalau satu ancaman telah berlalu. Namun beberapa saat merasa kalau kami sudah aman, tiba-tiba ada sesuatu yang menarikku kembali masuk kedalam rumah. Ada satu Yacd berukuran lebih besar dan gemuk mencoba menarikku ke lantai atas. Dengan gelagapan Balqis mengokang senjatanya dan menembak tangan Yacd besar itu. Tangan kiri Yacd itu terputus hingga memberiku kesempatan untuk berlari mendekati Balqis, tembakan demi tembakan diarahkan ke kepala Yacd itu namun dengan tenangnya Yacd itu berjalan semakin mendekat kearah kami.
"Sial, tidak berhasil dan peluruku sudah habis!"
"Harusnya tadi kau arahkan saja ke kakinya agar dia tidak bisa berjalan!"
"Tidak bisa, Yacd hanya bisa dibunuh dengan menembak bagian otaknya. Jika yang kutembak adalah bagian tubuh lain, bagian itu akan sembuh lagi kurang dari tujuh menit"
Kami mulai putus asa hingga aku punya ide, kalau Yacd biasa bisa mati jika otaknya ditembak mungkin artinya Yacd besar ini hanya bisa dibunuh dengan menusukkan sesuatu kearah kepalanya. Ada sebatang besi tajam bekas tiang papan jalan diluar sana, dengan terburu-buru aku membawa Balqis keluar dan mengambil besi itu.
"Hei kau mau apa?" Balqis berteriak kearahku namun aku tidak peduli. Yacd itu sudah berada diteras luar dan secepat kilat aku meloncat kearah Yacd itu. Satu tusukan tepat menembus keningnya hingga ke belakang kepala. Aku buru-buru menjauh saat Yacd itu berteriak sangat nyaring. Raungannya memekakan telinga dan terdengar mungkin hingga radius puluhan meter. Sesaat kemudian tubuhnya meledak, lendir dan dagingnya yang hancur berceceran dimana-mana bahkan sampai melumuri sekujur tubuhku.
"Sudah selesai?" Balqis menggeleng saat mendengar pertanyaanku.
"Sepertinya tidak, tadi Yacd itu berteriak nyaring saat kau berhasil membunuhnya. Itu berarti ada kemungkinan sekawanan Yacd lain akan mendekat kemari"
Dugaan balqis benar, sekitar lima puluh Yacd berjalan mendekati kami dari berbagai arah. Dengan panik Balqis menaiki motornya mencoba pergi.
"Apa lagi yang kau tunggu ayo cepat pergi!" Balqis berteriak melihatku masih berlagak tenang.
"Tenanglah, mereka masih jauh dan cara mereka berjalan sangat lamban"
"Iya memang mereka lambat saat berjalan namun mereka bisa melompat jauh dengan sangat cepat"
Terkejut mendengarnya aku buru-buru masuk kedalam rumah mencoba mengambil kotak yang tadi kutemukan. Setelah dapat aku keluar dari rumah dan menyalakan motor Arini yang kuparkir di teras. Kami merasa lega setelah berhasil meninggalkan tempat ini hingga salah satu Yacd meloncat dan berhasil berpegangan pada knaplot motorku. Dengan sigap Balqis menabraknya hingga kepalanya terbelah. Otaknya berceceran dan tubuhnya langsung meletus.
"Hantaman yang bagus" melihat senyumku Balqis ikut senang dan mengeluarkan HT-nya.
"kak Arini ini aku Balqis, kami udah selesai disini"
"Bagus, rombongan udah berjalan dari jam sebelas tadi. Kita ketemuan di Masjid Istiqlal"
"Oke"

Sepanjang jalan aku diliputi kecemasan. Sudah kuhampiri rumah itu namun tidak kutemukan salah satu dari mereka. Dan diantara barang-barang mereka yang berserakan hanya kotak ini yang kelihatannya agak mencolok, apalagi aku sangat tahu mereka tidak pernah menyimpan sesuatu yang berbahaya seperti pistol ini. Aku dan Balqis masih memacu kencang motor kami dibawah teriknya matahari yang semakin memanas. Disaat seperti ini aku malah semakin khawatir pada Asyam dan Fajrin. Oh Tuhan, apapun yang terjadi pada mereka, kumohon padaMu jangan biarkan mereka berada dalam ketakutan yang teramat panjang.
"Kotak apa itu!?" Balqis berteriak padaku melihatku membawa sebuah kotak yang kuletakan diatas tangki motor.
"Tidak tahu, aku bahkan tidak pernah melihat para saudaraku menyimpan kotak ini sebelumnya!"
"Apa isinya!?"
"Cuma dua buku tebal, pistol dan perekam!"
"Mungkin saudaramu itu mencoba meninggalkan semacam pesan didalam kotak itu! sebaiknya langsung kau periksa begitu kita tiba nanti!"
Ya, kurasa Balqis benar. Satu-satunya petunjuk yang mereka berdua tinggalkan mungkin cuma kotak ini. Akan kuperiksa isi buku dan handycam ini, siapa tahu isinya merupakan petunjuk untuk memecahkan semua misteri yang masih membingungkan ini.

Disappear (The Journey when I Runaway) [part : 12]

Sepanjang perjalanan aku diliputi kebimbangan, disatu sisi aku harus menolak tawaran itu karena takut Bayu dan Nindy akan mengkhawatirkanku sedangkan disisi lain harus menerima tawaran itu karena upahnya yang lumayan. Dua puluh juta lebih dari cukup untuk semua rencana yang sudah kami catat untuk dikemudian hari. Sampai aku tiba dirumah aku masih memikirkan tawaran itu, bahkan sekarang ada hal lain yang membuatku bingung. Kenapa rumah ini dikunci, apa Bayu dan Nindy belum pulang dari aktifitas mereka masing-masing atau memang mereka sedang pergi tanpa mengajakku?
"Nak Indra!!" salah satu tetangga Bayu menghampiriku, itu Bi Iyah tukang jual makanan disebelah pintu masuk gang.
"Kenapa Bik?"
"Nganu nak, Bayu tadi dibawa temen-temennya ke Rumah Sakit Husada"
Mendengar ucapan itu aku tersentak, tanpa memperdulikan Bi Iyah aku berlari menyambar kendaraan umum yang lewat berharap bisa secepatnya tiba di Rumah Sakit Husada.

Tiba disana aku melihat Nindy dan beberapa teman Bayu duduk menunggu di kursi untuk pengunjung. Kulihat disana Nindy menutup wajahnya dengan kedua tangannya sementara teman-teman Bayu sibuk menenangkannya. Aku berlari mendekati mereka mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada Bayu.
"Nindy, Bayu kenapa?" yang ditanya malah diam saja dan masih menutup wajahnya. Salah seorang dari mereka mulai menjelaskannya padaku.
"Tadi kita bareng Bayu lagi istirahat sambil makan bareng, taunya ada beberapa anak preman wilayah situ yang dateng malakin kita-kita. Karena cuma Bayu yang ngasih duit setoran yang jumlahnya paling dikit jadinya dia yang dikeroyok. Kita udah berusaha nolongin tapi jumlah mereka terlalu banyak dan kita semua diiket tadi. Kita berhasil kabur pas ada POL PP yang dateng tapi Bayu pingsan pas kita udah jauh dari POL PP dan luka-lukanya makin parah"
"Bayu-nya sendiri gimana, udah ada kabar dari dokter atau belum?"
Ada seorang dokter yang keluar dari ruangan tempat Bayu terbaring. Terlihat dokter itu sudah bisa menyimpulkan kondisi Bayu saat ini ketika kami mendekatinya, aku hanya berharap kami tidak menerima kabar buruk.
"Teman kalian kondisinya parah tapi jangan khawatir, kami akan berusaha semaksimal mungkin jadi sebaiknya begitu dia sudah keluar dari Rumah Sakit jangan suruh dia melakukan pekerjaan berat dulu sampai kondisinya benar-benar pulih"
Kami semua tertegun mengetahui kalau Bayu dalam keadaan koma. Untuk sesaat aku merasa lebih baik saat kuketahui kalau Bayu masih punya harapan untuk sembuh hingga seorang dokter mengajakku menjauh untuk bicara empat mata sementara teman-teman Bayu sudah pulang satu per satu.

Selesai bicara dengan dokter itu, aku berjalan mendekat kearah Nindy dengan langkah gontai. Nindy sudah tahu kalau wajahku secemberut ini artinya memang ada yang tidak beres.
"Apa masalahnya kak?"
"Nggak pa pa, kakak cuma mau tau siapa yang udah nyakitin abang kamu, kakak cuma mau mastiin kalo mereka nggak akan dateng kesini untuk nyakitin kamu"
"Nindy bisa jaga diri kok kak, Nindy cuma nggak tau mau cari duit dimana buat bayar biaya rumah sakit?"
"Makanya kakak harus tau siapa yang udah ngelakuin ini semua, kakak udah dapet cara buat bayar biaya rumah sakit, tapi masalahnya kakak harus pergi untuk waktu yang agak lama. Itu sebabnya kakak harus pastiin dulu kalo Nindy bakalan baik baik aja selama kakak pergi nanti"
"Emang kakak mau kemana dan berapa lama?"
"Maksimal dua bulan tapi kalo kakak bilang ke kamu kemana kakak pergi, kakak yakin kamu nggak bakalan mau maafin kakak"
"Cerita aja kak, Nindy bisa tutup mulut kok"
"Yang penting kakak harus tau siapa yang udah lakuin ini semua, kakak janji setelah ini selesai kakak bakalan jelasin semuanya asal Nindy nggak marah sama kakak"
"Yang tau siapa mereka cuma temen-temen Bang Bayu yang tadi kesini dan mereka biasanya ngumpul di stasiun Manggarai, ya udah nggak pa pa Nindy nggak bakalan marah kok tapi Nindy harap Kak Indra nggak bakal mencoba ngelakuin sesuatu yang buruk"
Aku langsung melangkah keluar dari rumah sakit setelah kukecup kening Nindy. Akan lebih baik jika Nindy tidak tahu banyak tentang apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi padaku. Aku menyayangi mereka berdua lebih dari aku menyayangi adik kecilku yang sekarang sudah kutinggalkan. Kali ini tekadku sudah mantap, aku sudah tidak lagi merasakan keraguan di batinku.

"Jadi kamu sudah yakin nak Indra, yakin untuk terima tugas ini?" Pak Torro mencoba menguji keyakinanku saat aku berada diruangannya menyatakan diri bahwa aku sudah siap.
"Iya pak, keputusan saya sudah mantap untuk ambil tugas ini"
"Baiklah saya akan persiapkan segala yang kamu butuhkan untuk bisa masuk kesana dan keluar dengan mudah bersama Aldo"
"Baik pak, tapi sebelumnya ada dua hal yang saya mau"
"Apa itu?"
"Pertama, saya harus tahu seluk beluk seputar wilayah Nusakambangan, mulai dari bentuk bangunannya, seberapa ketat penjagaannya, aktifitas rutin para sipir dan tahanannya, semuanya"
"Akan saya cari tahu itu, dan apa keinginan keduamu?"
"Yang saya tahu Nusakambangan itu adalah penjara yang dikhususkan untuk para bandar narkoba, dan nantinya akan ada satu hal berbeda yang akan saya lakukan, bapak harus pastikan saya benar-benar masuk ke Nusakambangan dan jangan sampai saya malah dimasukkan ke penjara lain"
"Soal itu sudah diatur, akan diurus oleh anak buah saya. Saya beri kamu waktu dua hari untuk persiapan"
"Terima kasih banyak pak"
Aku meninggalkan ruangan Pak Torro dengan wajah membesi. Keputusanku sudah mantap dan aku harus pastikan agar semuanya berjalan lancar. Sebelum aku pergi dari tempat ini aku menemui Imam dan dua orang jaket kulit kepercayaannya itu karena ada satu hal lagi yang kuinginkan yang tidak boleh diketahui siapapun.
"Jadi kamu benar-benar ambil tugas mustahil ini?" Imam terlihat heran dengan keputusan konyolku.
"Iya, ada waktu satu bulan penuh saat aku udah sampai disana untuk cari Aldo sampai dapat atau aku akan tetap mendekam dipenjara itu untuk waktu yang lama. Karena itu ada satu hal yang aku ingin kamu mau ngelakuinnya untukku"
"Apa aja sobat, tinggal bilang apa tugasnya"
"Ada seorang gadis kecil di wilayah Pluit, namanya Nindy. Kakaknya sekarat di Rumah Sakit Husada karena diserang preman diwilayah tempat kita diserang dulu. Kalau aku nggak kembali dalam waktu sebulan, aku ingin kamu jaga dia untukku" aku menyerahkan foto Nindy ke Imam. Melihat foto itu Imam memelukku dengan erat.
"Kamu juga harus janji untuk jaga nyawa kamu selama disana"
Setelah selesai dengan semua ini, aku pulang untuk mengambil dua batang linggisku. Dua hari lagi ada beberapa gelandangan yang akan muncul di halaman depan surat kabar sebagai korban pembunuhan.

Jakarta After Doomsday [Part 3 : Truck Convoy from Another City]

Makhluk itu menggeram penuh amarah dihadapanku. Gigi-giginya yang berbentuk taring semua terpampang jelas. Lidahnya yang panjang menjulur membelit pipi dan leherku. Tubuhku masih mati rasa. Aku berusaha sebisaku meraih potongan besi didekatku namun tanganku masih tidak bisa bergerak bebas. Sial, berapa lama lagi efek bius ini akan berakhir? Puas menjilatiku, makhluk ini mendekatkan gigi-giginya kearah leherku mencoba untuk mengunyah daging leher dan menghisap darahku.

Kudengar diluar sana suara letusan senjara mesin, beberapa pemuda dengan berpakaian seperti tentara lengkap dengan mengenakan topeng gas tengah sibuk memuntahkan begitu banyak timah panas dari senjata-senjata mereka. Sebagian lagi melempar gas penenang kearah sekumpulan monster yang berada didalam gedung tempat aku terbaring ini. Makhluk dihadapanku melepaskan leherku dan berlari menjauh sebelum salah satu dari mereka berhasil menembakinya. Aku bersyukur karena masih bisa hidup disaat ketika kukira ajalku akan datang ... lagi. Aku menghela nafas dan menutup mataku yang sudah sayu sejak tadi.
"Masih ada banyak didalam gedung ini"
"Gunakan peluru tajam, dan arahkan tembakan kalian tepat di kepalanya"
"Jangan biarkan lolos, basmi semuanya tanpa terkecuali"
"Hey!! ada warga sipil yang selamat disini! bahunya terluka parah!"
"Minta lebih banyak bantuan kesini, dan bawa orang ini ke konvoi"
"Sial, si preman ini berat juga"
"Angkat dia ke meja operasi dan bawakan aku alat-alat bedah"
"Tadi ada satu Yacd yang mendekati pria ini, kami berhasil membunuhnya sebelum Yacd itu berhasil membunuh pria ini"
"Kirim lebih banyak tambahan orang kesana, sekalian bawa senjata-senjata berat"
"Periksa sekujur tubuhnya termasuk luka dibahunya, pastikan tidak ada parasit yang terlanjur masuk ke tubuhnya"

***

Kurasakan tubuhku yang menggigil mulai hangat perlahan. Kusadari aku terbaring disebuah sofa dengan tubuh terbalut selimut tebal yang hangat. Kurasakan pula tubuhku sudah membaik dan tidak mati rasa. Kutatap sekelilingku ada sekitar belasan truk besar dan beberapa mobil yang bannya sudah diganti dengan ban untuk medan berat. Di dekat sofa tempat aku berbaring ada beberapa meja dengan payung besar dan dibelakang sofa ini ada sebuah truk. Tempat aku berbaring ditutup oleh sebuah terpal yang melindungiku dari silaunya mentari pagi. Seorang gadis kecil menatapku dengan wajah polosnya.
"Selamat pagi tukang tidur"
"Aku ada dimana, dan kau siapa?"
"Aku Balqis, kau ada di salah satu iring-iringan truk kami"
"Kami? memangnya kau bersama siapa saja?"
Seorang gadis muda tomboy berambut bob duduk di meja dekat sofaku. Terlihat dia tengah sibuk mengisi ulang senjata mesinnya.
"Syukurlah kau sudah sadar"
"Apa yang terjadi, dan kalian siapa?"
"Apa yang kau lakukan didalam Rumah Sakit itu semalam?"
"Ada beberapa makhluk aneh menyerangku, aku mencoba mencari bius untuk menjahit lukaku"
"Kau beruntung masih bisa hidup, ada dua puluh Yacd yang bersarang di tempat kau terbaring semalam. Tadinya kami berniat membunuhmu juga tapi untungnya parasit dari Yacd itu tidak sempat masuk ke tubuhmu"
"Yacd, apa itu Yacd?"
Sesaat Balqis dan gadis tomboy itu terdiam lalu kemudian melanjutkan kembali obrolan kami.
"Monster yang kemarin menyerangmu itu, dulunya dia manusia juga. Namun sekarang dia sudah terinfeksi virus HIV yang sekarang sudah berevolusi sejak kejadian buruk tanggal 12 April 2027"
"Virus HIV berevolusi sejak tanggal 12 April 2027? apa yang terjadi memang ditanggal itu?"
"Bencana besar yang membumihanguskan seisi daratan di bumi, membuat jutaan umat manusia musnah karenanya. Hanya sedikit yang bertahan dan lebih dari setengahnya sudah terinfeksi virus ini. Yang lebih buruk lagi, mereka yang terinfeksi sekarang malah jadi pemangsa manusia. Dan soal pertanyaanmu tadi, monster-monster ini kami menyebutnya Yacd"
Terkejut mendengar itu semua, aku bangun dari sofa ini dan mencari mantelku. Kulihat disekelilingku, semua yang bersantai diantara truk-truk besar ini melongo melihatku kebingungan atas apa yang ada disekitarku ini.
"Kalian dari kota mana, dan mau berangkat kemana?"
"Kami semua dari Bandung dan sedang mengadakan perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta" si tomboy ini menjawab pertanyaanku sambil masih asik dengan senjatanya.
"Ada apa di bandara itu memangnya?"
"Kami dapat bocoran bahwa ada beberapa pesawat kargo besar yang disimpan dalam sebuah bunker rahasia disana, kami mau mengambilnya agar kami semua bisa mengungsi ke Aceh. Disana ada sebuah kamp besar yang dihuni para koloni pengungsi dari berbagai penjuru provinsi"

Aku masih menggaruk-garuk kepalaku, masih terasa membingungkan atas apa yang terjadi disini. Walaupun ada sedikit hal yang kupahami, yaitu tidak banyak manusia yang 'masih utuh' disini dan kebanyakan hanya orang-orang kanibal berkulit merah yang mereka sebut Yacd.
"Tanggal berapa ini?"
"23 September 2028" gadis kecil ini menjawab pertanyaanku.
"Aku harus pergi ke suatu tempat"
"Sebaiknya jangan, ada banyak Yacd diluar sana yang sedang kelaparan"
"Kau tidak mengerti, aku harus temui dua orang yang tinggal di kota ini"
"Yacd selalu menyerang secara bergerombol, apa yang membuatmu berpikir kalau kau bisa menangani mereka sendirian dalam kondisi fisik seperti itu" si tomboy itu ikut bicara disini.
"Jangan khawatir, aku sudah sering main game dan nonton Resident Evil, aku tahu caranya bertahan hidup"
"Yacd bukanlah zombie, mereka adalah jenis makhluk berbeda"
"Tapi tetap bisa dibunuh dengan cara yang sama, iya kan?" aku mulai berani menyela mereka.
"Hei bung, kau masih bisa hidup setelah kemarin kau nyaris mati dan sekarang kau malah ingin pergi ketempat yang bisa membunuhmu kapan saja?" seorang pria negro bertopi keluar dari salah satu truk dan memandang kearahku. Sesaat terdiam lalu kulanjutkan obrolan aneh ini.
"Bukan hanya kalian yang harus mengungsi itupun kalau memang bencana ini nyata. Aku harus pastikan dua orang saudaraku dalam keadaan baik-baik saja"
Sekarang semua orang terdiam, sebagian dari mereka berpikir kalau masih ada dua orang yang bisa membantu dalam perjalanan ke bandara dan sebagian lagi berpikir kalau aku akan jadi santapan makhluk-makhluk merah itu. Si tomboy kini melempariku dengan sebuah kunci.
"Pakailah motorku didalam truk merah itu, dan biarkan Balqis ikut bersamamu"
"Arini, apa-apaan yang kau lakukan itu!?" si negro berteriak pada si tomboy itu.
"Jadi namamu Arini?" aku mengantongi kuncinya ke celanaku.
"Dan kau berhutang identitas padaku setelah kau kembali nanti"
Aku melangkah ke truk merah besar yang ditunjuk oleh si tomboy bernama Arini ini. Ada dua Suzuki GSX disini dan salah satunya sudah dinaiki oleh Balqis. Ya sudah, berarti cuma satu motor disini yang akan kupakai. Dibawah sinar mentari nan cerah ini aku mulai berkendara bersama bocah kecil dengan shotgun dipunggungnya, aku hanya ingin memastikan apa yang terjadi pada Asyam dan Fajrin dan apakah mereka masih hidup.

Disappear (The Journey when I Runaway) [part : 11]

Hari kedua bekerja untuk Imam dan Pak Torro telah tiba. Setelah berpamitan pada Bayu dan Nindy aku kembali berangkat setelah subuh tadi aku menerima sms dari Imam yang menyuruhku untuk menemuinya di Jalan Cilincing Landak. Dekat dengan wilayah Sungai Tiram dimana wilayah tersebut merupakan pemukiman padat yang dipenuhi oleh air. Setelah berkendara beberapa jam kini aku tiba diwilayah ini dan bertemu dengan Imam yang sedari tadi sudah menungguku bersama dua orang berjaket kulit kemarin.
"Hari ini kita jualan" Imam menyerahkan sebuah ransel
"Jual apa"
"Pokoknya kamu bawa aja ransel ini dan biar aku yang jual ke pembeli"
"Yaudah hayo".
Kami pun bergerak menuju pemukiman pemukiman padat dan sempit yang memang biasanya ditempati oleh beberapa preman dan penjahat yang sedang beristirahat sembari berjudi dan minum-minum. Ini membuat kami lebih mudah untuk menjual isi ransel ini pada mereka, karena mereka dalam keadaan tidak sadar. Dalam hati ini sebenarnya aku ingin protes setelah melihat Imam menjual beberapa bungkusan berisi serbuk putih, namun karena aku tergiur dengan bayarannya dan memang aku tidak berniat untuk memakainya dan hanya membantu menjualnya saja maka aku tidak banyak protes pada Imam. Selesai disini kami berkeliling di satu titik di tiap-tiap wilayah Jakarta dengan barang jualan yang sama. Setelah selesai saat sore seperti biasa kami melapor pada Pak Torro untuk meminta imbalan sebelum pulang. Seperti biasa sebelum pulang kerumah aku membeli segala keperluan untuk makan sehari-hari, setidaknya untuk bisa sedikit membantu Bayu dan Nindy.

Selama tiga hari terakhir aku, Imam dan dua orang berjaket kulit ini berjualan di tiga tempat berbeda diseluruh Jakarta ini. Hingga dihari keempat saat kami mencoba menjualnya diwilayah Cawang, tiba-tiba kami dihadang oleh beberapa preman-preman kecil yang menguasai wilayah sana. Mereka datang untuk merampok uang dan isi koper kami dan mengusir kami dari sini. Karena kami tidak mau menyerahkan sedikitpun uang kami pada mereka, maka kami besiap untuk menghajar mereka. Apalagi mereka hanya sekumpulan bocah-bocah yang tidak lebih tua dari kami, memangnya bisa apa mereka. Karena persenjataan kami lengkap maka kurang dari sepuluh menit kami berhasil mengalahkan mereka hingga tiba-tiba mereka mendapat bantuan yang tak lain adalah preman-preman yang lebih tua dan besar. Sial, ternyata lagi-lagi itu preman yang sama yang pernah kuhadapi bersama Imam. Karena aku langsung buru-buru memakai masker, para preman ini tidak tahu kalau aku adalah orang yang pernah menghadapi mereka sebelumnya. Aku hanya tidak mau berurusan pada orang-orang yang sama lebih dari dua kali.
"Mam, sebaiknya kita pergi dari sini dan jangan hadapi mereka"
"Lho kenapa padahal masih dua bungkus nih, tanggung"
"Percaya sama aku, ini bukan ide bagus. Lagian masih ada hari esok untuk ngelanjutin ini"
Secara tiba-tiba si botak mengeluarkan pistolnya dan menembak salah satu preman itu. Mendengar suara letusan pistol itu aku terperanjat dibuatnya.
"Gila, apa-apaan itu barusan?"
"Nggak usah banyak protes, kalian berdua pergi duluan. Kami berdua nyusul nanti"

Aku bersama Imam lari meninggalkan tempat ini kembali ke kediaman Pak Torro untuk menyerahkan laporan hasil. Aksi lari-larian dan lompat-lompat ala parkour kembali terjadi namun yang mengejar kami kali ini lebih banyak ditambah lagi perkelahian tadi telah mengundang beberapa polisi kemari, kulihat beberapa preman itu berhasil diringkus sementara yang lainnya masih tetap mengejar kami. Seperti biasa pula kami berhasil menghilangkan jejak diantara kolong selokan kotor dibawah jembatan jalan raya. Hari ini terpaksa kami mengakhirinya lebih awal dua jam dan langsung menyerahkan laporan kami. Setelah selesai diserahkan sesaat sebelum aku meninggalkan ruangan Pak Torro, beliau memanggilku.
"Indra, boleh saya bicara sebentar nak sebelum kamu pulang?"
"Ada apa ya pak?" aku mendekat dan duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Ada sesuatu yang sebenarnya ingin saya beritahu ke kamu mengingat keahlianmu melarikan diri ... ya bisa dibilang dua langkah lebih maju dibanding Imam"
"Sesuatu? apa itu pak?"
"Sepertinya kamu belum saya beritahu sesuatu tentang Aldo"
"Aldo? siapa itu pak?" mendengar pertanyaanku Pak Torro memperlihatkan sebuah foto dari laci mejanya.
"Ini Aldo, anak semata wayang saya. Tiga bulan lalu seseorang menjebaknya dan membuatnya terpaksa harus mendekam dipenjara. Sejak dia dipenjara, bisnis saya sering mengalami masalah, ingin sekali saya bisa membawanya kembali lagi kesini. Imam sudah banyak membantu saya bersama Si Botak dan Si Gondrong tapi saya merasa tidak enak jika harus menyerahkan tugas ini pada mereka karena mereka sudah terlalu banyak saya bebankan dengan pekerjaan-pekerjaan bisnis saya"
"Kenapa bapak tidak suruh saja anggota bapak yang lain untuk membawanya kabur"
"Sudah saya suruh tiga kali kepada tiga orang bawahan saya dan ketiganya gagal, yang terakhir saya kirim kesana dia meninggal karena kepalanya ditembak saat mencoba kabur. Saya ingin nak Indra mau membawa Aldo pulang kesini dengan selamat. Sebagai gantinya saya sudah menyiapkan dua puluh juta untuk nak Indra"
"Memang dia dipenjara dimana pak?"
"Penjara Nusakambangan, saya berharap nak Indra mau menerima misi ini. Atau mungkin sebaiknya saya kasih nak Indra waktu selama satu hari untuk berpikir"
Deg, jantungku serasa berdenyut kuat sekali. Aku tahu persis penjara itu, aku dengar bahwa memang pengawasan disana sangat ketat bahkan setara Pulau Alcatraz. Sekali masuk tidak bisa keluar dan kabur dari sana artinya bunuh diri. Ini pertama kalinya aku disuruh melakukan sesuatu yang membutuhkan lebih dari seratus persen kemampuanku saat ini.
"Baiklah pak, izinkan saya untuk berpikir selama satu hari penuh"

Jakarta After Doomsday [Part 2 : The Ruins of the Former Big City]

"Kami semua sangat mengkhawatirkanmu ..."
" ... Aku yakin Tuhan masih mau memaafkanmu"
" ... Biarkan dia tenang dialam sana"
"Aku akan selalu menyayangimu, kakakku ..."

Haah!!??
Aku terbangun disebuah ranjang didalam ruangan empat kali empat tanpa jendela yang terbuka apalagi lampu yang menyala. Disini terlalu gelap, sulit untuk melihat dengan jelas bagian dalam ruangan ini. Sejujurnya aku merasakan seperti baru terbangun dari mimpi buruk, ya mimpi buruk yang teramat sangat panjang. Tentang semua orang yang terlalu khawatir padaku, tentang nasib naas yang menimpa adikku. Kurasakan ada rasa terbakar didalam kepalaku dan saat kusentuh keningku, ada bekas seperti lubang kecil ditengahnya. Sayang tidak ada cermin disini, aku mencoba meraba-raba mencari pintu disekitar sini. Aku berhasil membuka satu pintu yang membawaku ke sebuah koridor. Ada banyak pintu disekitar sini, sungguh aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum aku terbangun dari ruangan itu. Merasa kedinginan, aku mencoba mencari siapapun disekitar sini berharap bisa meminjam mantel hangat jika memang ada yang punya. Namun tempat ini sepertinya terlalu sepi. Satu jam sudah kuhabiskan untuk berkeliling tempat ini dan aku berhasil keluar dari ... ya, terlihat seperti sebuah gedung putih bertuliskan RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo. Kulihat sekelilingku hanya ada gedung-gedung yang hancur dan semuanya berwarna abu-abu. Sinar mentari begitu terik namun langit disini berwarna abu-abu pekat dan hanya ada beberapa awan diatas sana. Ada satu truk yang kelihatan masih 'berbentuk' diantara begitu banyak benda-benda yang sudah hancur. Aku mencoba memeriksa bagian dalam itu berharap ada jaket atau semacamnya yang (kuharap) masih tertinggal didalam bagasi truk itu. Yang kudapatkan lebih dari yang kuharapkan. Sebuah mantel besar berlengan panjang, celana jeans hitam, beberapa utas tali, sepasang sarung tangan dan sebuah ikat kepala. Setelah memakai semua itu, aku berjalan menelusuri setiap tempat selama berjam-jam berharap ada seseorang yang bisa kutemui. Namun hanya ada reruntuhan dan sisa-sisa seperti habis terbakar. semua gedung-gedung pencakar langit hanya menyisakan kerangkanya saja. Merasa mulai heran, kuputuskan untuk menaiki salah satu dari gedung itu yang tertinggi. Tiba diatas sana aku memandang dari bagian jendela luar, aku hanya menghela nafas atas apa yang kulihat ini.

"Apa yang terjadi disini, sudah berapa lama aku tertidur sampai aku melewatkan semua ini?" aku bergumam dalam hati melihat begitu banyak gedung-gedung besar, bangunan-bangunan bagus, jalan layang yang kokoh, fasilitas-fasilitas umum, ratusan kendaraan, semuanya hancur tak bersisa. Sesaat aku berpikir mungkinkah cuma aku yang tersisa disini? Ah tidak mungkin, aku yakin pasti ada orang yang juga bernasib sepertiku diluar sana entah dimana. Buru-buru aku turun dari gedung ini dan mencari dua batang linggis dan beberapa sisa logam yang tajam, mungkin bisa kugunakan untuk bertahan hidup karena aku merasakan seperti ada seseorang atau mungkin sesuatu yang sejak tadi mengawasiku. Berjalan diantara celah-celah bangunan, kudengar seperti suara derap langkah kaki. Namun saat aku menoleh tidak ada siapa-siapa. Suara itu terdengar lagi, kali ini terdengar lebih jelas. diatas genteng dari sebuah bangunan kulihat ada orang seperti tergeletak dalam keadaan tertelungkup.
"Heeey, kau baik-baik saja !!??"
Sesaat setelah aku berteriak, orang tertelungkup itu mendongakan wajahnya kearahku. Sesaat aku terdiam melihatnya hingga tiba-tiba orang itu merangkak cepat sekali. Dia turun kebawah dengan merangkak dan menghilang diantara rumput-rumput liar.
Aku terbengong sesaat hingga kusadari orang itu melompat tinggi sekali kearahku, berniat menerkamku. Sebelum sempat menyentuhku, aku lebih dulu melemparinya dengan potongan logam yang kubawa tepat mengenai keningnya dan menembus hingga belakang kepala. Beberapa saat-kulihat orang itu menggelepar hingga akhirnya tubuhnya ... hmmm kau bisa bayangkan sebuah balon sabun yang disentuh dengan tangan lalu kemudian meletus. Kira-kira itulah yang terjadi pada orang itu, dia meletus dan hanya menyisakan kerangka tubuhnya. Sesaat kukira aku sudah aman ternyata ada tiga lagi yang seperti orang tadi. Muncul dari celah-celah bangunan dan mengepungku. Wujud mereka seperti manusia namun kulit mereka memerah seperti habis terbakar dan bau mereka sangat busuk dan yang pasti tanpa bola mata. Aku berusaha semampuku untuk bertahan hanya dengan beberapa potongan besi. Aku berhasil mengalahkan mereka bertiga walaupun bahu kiriku tertancap potongan besiku sendiri saat sibuk melawan mereka. Aku sadar kalau besi ini dicabut maka aku akan mati karena kehabisan darah akuibat pendarahan hebat, namun jika kubiarkan rasanya semakin sakit saja. Sialnya lagi tidak ada air disini, debu-pun tidak cukup membantu.

Dengan sempoyongan menahan sakit karena membiarkan batang besi ini menembus bahuku tanpa mencabutnya, aku berjalan tanpa henti selama berjam-jam atau malah mungkin seharian penuh. Ingin rasanya kembali ke rumah sakit tempat aku keluar tadi, tapi saat ini aku sudah terlanjur berada di Jalan Otto Iskandardinata dan jika aku memutuskan untuk kembali perjalanannya bisa sangat jauh. Entahlah apa sebutannya ini, aku tidak sadar kalau aku sudah berjalan terlalu jauh padahal kukira aku masih didekat rumah sakit itu. Aku ingat ada sebuah Rumah Sakit didekat Jalan Dewi Sartika dan jaraknya hanya tinggal beberapa jam lagi. Aku tidak boleh menyerah karena aku tidak mau mati kekeringan disini ataupun mati diserang makhluk seperti tadi yang mungkin masih ada disekitar sini. Beberapa jam berjalan hingga berpikir kalau aku tidak akan berhasil, akhirnya aku beruntung sudah berada dirumah sakit itu. Sejauh ini aku masih sendirian dan tidak ada yang membuntutiku. Hari sudah malam dan sepertinya hujan akan turun, kuharap ada sesuatu didalam rumah sakit ini yang bisa kupakai selama satu malam karena malam ini aku harus bermalam disini. Tiba didalam rumah sakit ini aku menyusuri tiap-tiap ruangan gelap disini berharap bisa menemukan obat bius atau setidaknya sebaskom air. Tidak banyak yang kutemukan , hanya benang dan jarum, segelas air, senter dan botol kecil bertuliskan "Trivam Propofol", coba saja lah lagipula aku tidak butuh banyak, cuma untuk menjahit lukaku sendiri. Beberapa saat aku selesai mengobati lukaku, aku merasakan aku mulai mengantuk. Tanpa kusadari aku tertidur.

Aku tidak ingat berapa lama aku tertidur, tidak ada cahaya disekelilingku. Semua gelap dan mencekam karena memang aku sendirian disini. Hawa dingin menjalar keseluruh tubuhku, kelihatannya hujan sudah reda namun hari masih gelap, yang kutahu sekarang bahuku sudah membaik walaupun masih mati rasa. Ada suara geraman yang kudengar disini. Suaranya sangat jelas, aku tahu pasti beberapa makhluk yang seperti tadi siang pasti juga ada disekitar sini. Tangan kananku menyentuh senter tadi dan langsung menyalakannya. Aku terperanjat setelah melihat sebuah wajah mengerikan. Kulit wajahnya merah, tanpa bola mata, mulut penuh lendir, tepat sejengkal didepan wajahku.

Jakarta After Doomsday [Part 1 : Intro Story]



“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS Hud ayat 82)

Aku adalah seorang narapidana kasus pembunuhan yang telah membunuh sekitar delapan orang dan semuanya adalah anak-anak SMA. Aku membunuh mereka karena mereka telah memperkosa dan membantai adik tiriku. Walaupun hanya adik tiri namun kakak mana yang tidak sedih melihat adiknya diperlakukan begitu? Aku merasakan kepuasan tersendiri saat aku memotong-motong tangan dan kaki mereka saat itu, meski begitu aku bukanlah seorang psikopat gila. Aku hanya ingin membalas dendam dan memberikan hukuman pada bocah-bocah yang ketagihan video porno dan lantas melampiaskannya pada orang yang paling kusayangi ini. Dan disinilah aku, terkurung dalam jeruji besi mengenakan pakaian merah polos dengan angka 06133 dibagian dada kiri. Menunggu hingga tengah malam tiba dimana aku akan menghadapi prosesi hukuman mati. Sahabat baikku Fajrin dan Asyam menemuiku didalam sel jelek ini.
"Bagaimana keadaanmu?" Fajrin mulai bicara padaku.
"Jangan pura-pura khawatir, hanya aku diantara kita disini yang akan ditembak mati"
"Kami semua sangat mengkhawatirkanmu, terutama setelah pengakuanmu pada pihak kepolisian"
"Mereka sudah dapatkan hukuman mereka, kurasa hukuman untukku akan datang mulai malam ini"
"Kau tidak boleh bicara begitu, aku yakin Tuhan masih mau memaafkanku" Asyam ikut berujar.
"Tidak ada lagi kata maaf, dunia sudah terlanjur kacau balau. Kiamat seharusnya datang dalam waktu dekat"
Asyam mendekatiku dan menatap mataku dalam-dalam. Aku hanya membalasnya dengan wajah pucat.
"Kau harus ikhlaskan kepergian Opi, biarkan adikmu tenang disana dan aku yakin dia sudah memaafkan mereka"
"Ya aku akah ikhlaskan dia jika dia masuk surga, tidak peduli kalau aku akan langsung diseret ke neraka. Lagipula ada delapan bocah yang akan kujadikan mainan disana"
"Menyimpan dendam bukanlas sesuatu yang baik mengingat keadaanmu saat ini" mendengar ucapan Asyam aku hanya menyengir.
"Tidak usah repot-repot, nanti aku akan kirim salam darimu untuk kakekmu jika aku berhasil sampai ke surga, tapi jika tidak artinya kau harus tunggu giliranmu untuk mati nanti" ujarku sambil menyeringai.
"Baiklah sudah cukup, kalian berdua keluarlah, eksekusi akan dimulai sebentar lagi" seorang sipir memaksa mereka berdua keluar dari sel ku. Aku masih memperlihatkan wajah datarku saat mereka dipaksa pergi.

21:00 PM
Aku berjalan dengan dikawal oleh lima polisi dalam keadaan kaki dan tangan dirantai. Aku sudah pasrah dan siap untuk apapun yang akan menghampiriku malam ini. Kami berjalan menuju ruang ganti pakaian untuk mengganti pakaian tahananku dengan pakaian eksekusi. Kulihat dilapangan sana sudah dipersiapkan tiang dengan rantai pengikat yang nantinya akan dipakai untuk mengikat tubuhku.  Selain itu juga pihak medis sudah menyiapkan beberapa orang petugas dan satu mobil lengkap dengan keranda mayat didalamnya. Setelah berganti pakaian seorang Ustadz mendekatiku dan membacakan doa yang cukup panjang untukku. Walaupun begitu aku bisa merasakan ada beberapa kalimat yang bisa kupahami dari doa itu.

" ... RABBANAA AATINAA FIDDUNNYAA HASANAH, WA FIL AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA ‘ADZAA BAN NAAR. ..."

Setelah merasa tenang dan setelah surat wasiat selesai ditulis, aku dibawa ketengah lapangan untuk diikat dan kepalaku ditutup. Delapan orang regu tembak telah mengambil senapannya masing-masing dan bersiap mengambil posisi. Perasaan tegang ini sudah dilempar jauh dari dalam hatiku. Aku menarik nafas dalam-dalam ketika seseorang mulai berhitung mundur.
LIMA, EMPAT, TIGA, DUA, SATU, ... DHAR!!!
kurasakan darah segar mengalir dari kepalaku, menyisakan sebuah bekas berbentuk lubang tepat ditengah keningku. Tanpa terasa air mataku berlinang dan semenit kemudian nafasku berhenti.

Tahun 2024.
Kejahatan seksual semakin menjadi-jadi akibat industri produk-produk porno yang semakin gencar dipublikasikan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Kebanyakan dari mereka meraup untung yang besar karena mereka mempunya modal yang cukup untuk menyuap sebagian oknum penegak hukum. Akibatnya norma-norma kesopanan sudah tidak berlaku lagi dan seisi dunia menjadi surganya praktek prostitusi yang semakin diluar akal sehat. Area pelacuran, pemerkosaan ditempat-tempat umum, pedofilia yang berkeliaran, tindakan asusila tak wajar tanpa henti menjadi pemandangan biasa disegala tempat. Pihak PBB sudah berulangkali memberikan arahan pada seluruh penduduk dunia untuk menjauhi tindakan seks bebas yang dikhawatirkan akan membuat virus HIV kembali menjadi masalah dunia. Tokoh-tokoh pemuka agama juga sering mengingatkan dalam setiap khotbahnya untuk kembali pada norma-norma yang sesuai dengan ajaran agama. Namun semua himbauan itu hanya dianggap sebagai lelucon belaka oleh hampir sebagian besar masyarakat dunia. Hingga akhirnya, Tanggal 12 April 2027 dunia berhadapan dengan bencana besar sepanjang sejarah. Seluruh gunung berapi paling berbahaya ditiap-tiap negara meledak bersamaan, termasuk pula Gunung Merapi dan Gunung Krakatau. Abu vulkanik telah menyapu bersih seluruh daratan menyebabkan jutaan orang tewas seketika. Mereka yang selamat menyebutnya sebagai 'bagian terburuk dalam kitab suci'. Bencana telah berlalu dan sisa umat manusia yang masih hidup hanya tersisa delapan belas ribu lima ratus tujuh puluh tiga yang tersebar di bekas-bekas negara besar termasuk Indonesia. Kerusakan yang paling parah dialami oleh kota-kota besar yang mana salah-satunya adalah Jakarta. Setelah perlahan-lahan mencoba mempertahankan eksistensi rasnya dimuka bumi, kini mereka dihadapkan dengan sebuah isu mengerikan yang disebut sebagai 'Lot's Project' (Proyek Nabi Luth). Tentang makhluk-makhluk misterius yang muncul setahun setelah bencana. Satu demi satu umat manusia berakhir menjadi korban serangan makhluk-makhluk itu. Tidak ada yang tahu pasti makhluk apa sebenarnya mereka itu karena umat manusia yang tersisa semakin putus asa dan menyerah untuk meneliti. Umat manusia kini berada diambang kepunahan.

Disappear (The Journey when I Runaway) [part : 10]

"Indra, kok tumben kemaleman? trus kenapa kepala kamu diperban gitu?" Bayu menyambutku saat dia melihat aku datang dalam keadaan senar gitar putus dan kepala diperban.
"Iya tadi abis jatuh dari bis. Nih aku bawa bahan-bahan buat masak" lagi-lagi aku terpaksa berbohong agar Bayu tidak terlalu mengkhawatirkan aku.
"Wah, aku sama Nindy baru aja selesai makan tadi. Tuh lauk masih ada buat kamu"
"Lha terus nih bahan-bahan gimana?"
"Yaudah buat besok pagi aja"
"Yaudah aku mandi dulu ya sekarang terus makan"
"Yakin nggak pa pa soal kepalamu itu?"
"Udah jangan dipikirin, yang sakit itu kepalaku bukan badanku" aku menjawab dengan sedikit bercanda. Bayu hanya tertawa mendengarnya. Selesai mandi dan makan kuputuskan untuk tidur lebih awal karena besok aku harus bangun pagi-pagi sekali. Bukan untuk mengamen tapi untuk menemui Imam dan memulai pekerjaan pertamaku besok.

Pukul enam pagi aku sudah selesai mandi dan makan. Kini aku dengan terburu-buru mengenakan kaos kaki dan sepatu dan Nindy yang juga berada duduk disebelahku tersenyum melihat kegesitanku.
"Semangat banget kak, mau kemana emang?"
"Kakak dapet kerjaan baru, nggak perlu lagi ngamen" ucapku seraya mengecup kening Nindy.
"Kerjaan baru? kerjaan apa emang?"
"Mau tau aja nih, dah berangkat sekolah sana"
"Kakak pelit !!" aku merasa senang karena kami masih bisa bercanda saat kami sudah waktunya untuk sibuk ke masing-masing pekerjaan kami. Setelah Nindy berangkat bersama teman-temannya Bayu keluar dari rumah bersama gitarnya.
"Kamu yakin Ndra nggak ngamen hari ini?"
"Nggak pa pa Bay, aku lagi dapet kerjaan nih dan ini hari pertama aku"
"Oke, sukses ya hari pertamanya"
"Sippp makasih Bay" Bayu pun berlalu meninggalkanku yang pergi ke arah yang berbeda. Setelah sepuluh menit menaiki bis aku tiba di Jalan Daan Mogot. Turun dari halte busway aku berjalan keluar jembatan dimana diujung jembatan penyebrangan sana Imam yang mengenakan setelan jaket hitam menungguku.
"Pagi Ndra, nih aku bawa capuchino"
"Pagi juga Mam, makasih"
Ada sebuah mobil yang dikendarai dua orang berpakaian kulit. Satu orang botak dan yang memegang setir berambut kuncir kuda. Saat kami masuk mobil itu si botak memberiku jaket kulit hitam dan sebuah tanda pengenal, entahlah aku belum pernah melihat kartu seperti ini. Kami berkendara menuju Bandara Soekarno-Hatta dan setibanya disana kami masuk ke wilayah lapangan terbang setelah kami memperlihatkan kartu yang tadi kudapatkan dari si botak. Aku terkagum-kagum melihat ada begitu banyak pesawat disana-sini.
"Kok bengong gitu?" Imam tertawa melihatku melongo menatap begitu banyak pesawat yang lepas landas, mendarat dan yang tengah diambil muatannya.
"Aku emang udah pernah beberapa kali naik pesawat tapi aku belum pernah masuk ke landasan pacu secara langsung sebelumnya. Keren"
"Udah tenang aja, lain kali kalo lagi empty-job kita kesini lagi dan lain kali aku bakal bawa kamera buat foto-foto."
"Mau tahu satu rahasia kecil Mam?"
"Apa tuh?"
"Sejak kecil aku pernah pengen jadi pilot bahkan sampai mati-matian belajar matematika dan selalu dapet nilai diatas rata-rata walaupun nggak begitu bagus."
"Kalo aku sih palingan pengen jadi pramugari pria aja hahahahaha"
"Hahahahaha eh ngomong-ngomong kita nungguin apa sih?"
"Itu dia baru nyampe"

Ada sebuah pesawat kargo yang baru saja mendarat. Beberapa pekerja pengangkut barang memanggil kami menyuruh untuk mendekat. Aku agak ketakutan melihat beberapa pekerja itu menatap tajam kearahku.
"Siapa dia?" seorang pekerja bertanya pada Imam sambil menunjuk kearahku
"Anggota baru"
"Mereka siapa sih Mam?"
"Tenang aja Ndra, mereka orang-orang kita"
Kami membawa masing-masing dua koper kedalam mini-truck yang langsung pergi meninggalkan bandara. Perjalanan ke tujuan sejauh ini cukup lancar mengingat kami melintasi jalan bebas hambatan dan cuacanya sangat cerah dan bersahabat. Aku merasakan sesuatu yang agak aneh dengan saat ketika kami masih berada dibandara tadi.
"Tadinya aku kira kita bakal nganter banyak muatan, taunya cuma empat koper"
"Sebenarnya ada banyak barang yang mau diantar, tapi berhubung kamu anggota baru kita nganternya dua koper aja dulu. Selebihnya biar orang lain aja yang anter"
"Emang biasanya bisa ampe berapa koper?"
"Kadang satu orang nganter enam koper pake motor, kadang juga belasan koper pake mobil sport"

Tiba di tujuan kami menyerahkan koper-koper ini dan menerima imbalan. Setelah itu kami kembali ke tempat lain untuk pengantaran lainnya hingga tiba pukul lima sore kami pulang ke kediaman Pak Torro untuk menyerahkan laporan dan mengambil bayaran untuk kami. Aku bernafas lega saat melihat uang lima ratus ribu digenggaman tanganku. Bahkan Imam memberikanku sebuah HP baru yang cukup canggih buatku.
"Tuh HP bukan sekedar buat mainan, kalau kamu dapet sms dari aku kamu harus dateng tepat waktu"
"Oke rebes boss" Aku berpamitan pada Imam dan langsung pulang, hingga diperjalanan aku merasa mencium bau yang aneh. Bau itu berasal dari sedikit serbuk yang menempel dilengan jaketku. Ah iya aku ingat serbuk itu sedikit tumpah dari koper-koper kami. Aku mulai curiga sendiri didalam bis ini sebenarnya apa isi koper-koper itu? Dua orang polisi berpakaian preman yang sejak tadi mengawasiku didalam bis mulai curiga padaku. Dengan tenang aku menuruni halte diwilayah Daan Mogot ketika dua polisi itu mulai mengikutiku. Sadar mereka mengincarku aku buru-buru berlari dan mereka berdua mulai mengejarku. Aksi lari-larian terulang kembali bedanya kali ini polisi yang mengejarku lebih gesit dari para preman-preman yang waktu itu. Aku agak kesulitan melompati tiap pagar, atap, dan dinding yang ditanami pecahan beling dan kawat berduri, bahkan aku harus membuang jaket kulitku untuk menghilangkan jejak diantara kerumunan pedagang kaki lima yang sedang ramai-ramainya dipinggir jalan. Namun pada akhirnya aku kembali berhasil meloloskan diri dan tiba dirumah dengan selamat. Bayu dan Nindy menyambutku dengan ramah.
"Gimana hari pertamanya?"
"Lumayan walaupun agak berkeringat" ujarku sambil memperlihatkan uang yang kuperoleh.
"Kakak makan gih, tuh lauknya masih ada" Nindy menawariku makan malam namun kuputuskan untuk mandi lebih dulu membersihkan diri dari bau menyengat yang sempat membuatku dikejar dua polisi tadi. Pukul sembilan malam, selesai mandi dan makan malam aku pergi ke warung makan didepan gang untuk membeli kopi hangat dan membeli es teh karena kurasakan tubuhku masih agak panas. Aku langsung naik keatas atap menemui Bayu sembari menawarkan kopi padanya.
"Cieee yang hari pertamanya sukses, wah kopi nih makasih ya"
"Iya udah kita minum dulu"
"Yakin mau minum es dingin-dingin gini?"
"Badanku kepanasan malah, makanya beli es"
Malam yang menyenangkan ini kami habiskan seperti biasa dengan bernyanyi mengiringi hembusan angin malam dan merdunya suara jangkrik yang bersahut-sahutan. Bulan diatas sana juga semakin terang benderang karena asap polusi yang agak sedikit malam ini. Masa bodoh, yang penting hari pertama ini sukses dan semoga hari kedua lebih menantang dan sesukses hari ini.

Disappear (The Journey when I Runaway) [part : 9]

Setelah berjalan jauh, kini kami tiba disebuah wilayah Pantai Ancol Jakarta. Sambil menikmati pemandangan laut yang mempesona dan hembusan angin laut yang tenang sembari ditemani dua botol minuman, dia kembali melanjutkan obrolan tadi selama beberapa menit setelah terputus beberapa saat.
"Jadi kamu kabur dari rumah karena bosan sama hidup kamu yang itu-itu doang?"
"Ya aku tahu, aneh ya memang mengingat umur aku yang masih segini"
"Nggak pa pa, malah menurut aku emang itu pilihan yang bagus daripada kelamaan tinggal ditempat yang nggak bisa ngasih keceriaan gitu, nggak ada istilahnya batasan umur untuk mencoba berpetualang melawan dunia"
"Yang bener?"
"Dan nggak ada gunanya megang bara api pake tangan kosong selama sepuluh menit kalo emang tangan kamu gampang kebakar, begitu juga tempat tinggal. Nggak ada gunanya tinggal bersama keluarga cukup lama kalo keluarga itu sendiri nggak bisa kasih kebahagiaan"
"Emang kamu juga kabur dari rumah?"
"Hampir mirip kayak kamu. Sendirian ninggalin nenek aku satu-satunya untuk dateng ke Jakarta demi naklukin apapun sampai akhirnya aku dapet kabar kalo nenek aku meninggal. Seisi kampung sekarang udah buang aku dan ngelarang aku untuk kembali karena pekerjaan aku yang sekarang, tapi sekarang aku udah dapet tempat untuk berkuasa disini jadi aku nggak perlu balik lagi ke kampung"
"Emang kamu kerja apa?"
"Aku kerja untuk seorang pengusaha bernama Pak Torro"
"Kalau kamu kerja untuk pengusaha lalu kenapa kamu waktu itu berpakaian kayak gelandangan?"
"Aku dikasih tugas untuk ngirim paket ke wilayah tempat kamu nyelametin aku waktu itu. Aku pakai pakaian gelandangan biar bisa membaur sama lingkungan disana yang sebagian besar kumuh. Aku juga dateng sendirian biar nggak ada dari mereka yang tahu identitas asli aku"
"Paket macam apa emangnya"
"Nggak tau, aku juga nggak dapet informasi apa apa sama atasan aku. Yang aku tahu aku cuma disuruh nganter paket itu ke tujuan yang letaknya ada diwilayah musuh"
"Pernah nggak kepikiran kalau isi paket itu adalah sesuatu yang berbahaya"
"Bukan pernah lagi, sering malah. Kadang aku berpikir kalau isinya narkoba, atau amunisi, atau malah nuklir"
"Kalau isinya nuklir mah pasti Jakarta udah dari dulu jadi Chernobyl kedua"
"Hahahahaha"

Kutatap ujung laut dikaki langit itu. Pemandangan berwarna biru tua yang indah dibawah warna biru muda yang berhiaskan kepulan warna putih yang mereka sebut awan. Sungguh pemandangan pinggir laut yang mempesona dan memanjakan mata. Disekelilingku terlihat pasangan muda-mudi tengah asyik berpelukan dan memadu kasih, anak-anak berlalu lalang didekat kami membawa balon dan es krim. Suasana damai persis seperti yang kualami saat pertama kali bertemu dengan Bayu.
"Eh mau ikut ketempat aku? siapa tau kamu tertarik"
"Mungkin lain kali aja, soalnya aku harus balik lagi ngamen, mana gitar aku tinggalin lagi di warteg tadi pas mereka datang ngeroyok"
"Ini masih jam setengah tiga lho. Masih ada waktu untuk kita jalan-jalan lagi. Soal gitar ntar aku bantu ambil deh malem nanti pas kamu mau pulang"
"Hmmm boleh deh, tapi tempat kamu diwilayah mana emang?"
"Pantai Indah Kapuk, nggak jauh kok dari sini"
"Yaudah, dan sekali lagi makasihnya. Perbannya, jalan-jalannya, minumannya, wah aku berutang banyak sama kamu" mendengar ucapanku yang bersahabat, dia menawarkan jabat tangan denganku.
"Imam" aku membalas jabatannya dengan senyuman
"Indra"

Kami menaiki bis menuju wilayah Pantai Indah Kapuk. Tempat dimana Imam tinggal bersama rekan-rekannya sesama 'preman berdasi'. Tiba di tujuan kami langsung memasuki sebuah rumah besar yang berandanya dijaga oleh beberapa orang berdasi. Aku sempat ketakutan melihat orang-orang itu karena kulihat disana ada beberapa unit AK-47.
"Jangan khawatir, mereka cuma penjaga gerbang"
"Tapi kok malah pake AK-47 segala, emang mau perang"
"Udah ikutin aja, ntar juga lama-lama kamu ngerti sendiri"
Interior rumah ini sangat mewah, barang-barang bernilai seni tinggi dan segala perabotan mahal berjejer rapi di tiap-tiap sudutnya. Sebuah mini bar yang sedang ramai saat ini terlihat berada disisi kanan rumah itu. Tak tanggung-tanggung belasan pria berjas dan berdasi hitam berdiri tegap disegala tempat diruangan itu. Kini kami menaiki sebuah tangga dan memasuki sebuah ruangan. Ruangan itu memiliki sebuah meja besar berbentuk oval dan diduduki oleh sekitar sepuluh orang berpakaian seperti pria berjas yang tadi bedanya ada yang jasnya berwarna abu-abu, merah, cokelat, dan satu orang diujung meja itu berpakaian jas merah dengan bunga kecil didadanya tengah asyik menghisap cerutu. Aku pernah dengar seorang bernama Don Corleone dan kelihatannya orang ini mirip.
"Jadi Imam, siapa anak muda ini?"
"Ini Pak, dia anak yang waktu itu sudah menyelamatkan nyawa saya"
"Silahkan duduk nak" seorang pria berjas abu-abu menawariku kursi dan segelas bir. Aku dan Imam duduk sambil menikmati bir ditangan kami.
"Jadi, anda yang bernama Indra Alamsyah ya, saya dengar anda dicari-cari oleh pihak kepolisian sebagai orang hilang"
"Benar pak, saya tidak peduli lagi pada hidup saya yang dulu karena sekarang saya sudah punya kehidupan baru yang lebih menantang disini"
"Saya suka semangat kamu. Kamu lihat, disini kami semua sangat menjaga dan selalu saling mendukung dalam tugas. Disini kami berprinsip bahwa semua anak buah kami adalah anak kami sendiri. Kami juga memberikan semua yang diperlukan anak-anak kami dan tidak ada yang tidak terpenuhi. Contohnya Imam, walaupun dia sempat diusir dari kampung halamannya namun sekarang dia sudah jadi orang terhormat di provinsi penuh peluang ini. Kami juga tidak sungkan-sungkan untuk menerima anak baru yang ingin bergabung bersama kami, segala bentuk kenyamanan dan keamanan akan selalu tersedia disini selama anak-anak kami mau melakukan segala misi yang kami berikan"
"Kami juga sedang membutuhkan orang dengan bakat berkelahi dan melarikan diri yang sangat luar biasa seperti kamu. Kamu bisa gunakan bakat kamu dan juga memperasahnya disini jika kamu mau"
"Jadi ... nak Indra, Imam sudah menawarkan kami untuk menerima nak Indra dalam organisasi ini. Dan setelah kami periksa arsip-arsip anda kami sepakat untuk mengundang anda untuk bergabung bersama kami"
"Jadi anak muda bagaimana, mau bergabung bersama kami"
Si penghisap cerutu itu bernama Pak Torro, si jas abu-abu itu bernama Pak Ivan, dan aku merasa kenal dengan yang berjas merah dan selebihnya aku masih belum kenal. Karena Imam yang sudah mengundangku dan kelihatannya ini cukup menghasilkan, maka aku anggukkan kepala tanda setuju. Para pria terhormat dimeja ini berdiri bersamaan dan mengangkat gelas-gelas bir mereka.
"Selamat datang di 'Perusahaan Gagak Hitam'" Pak Torro berujar dengan lantang
"Mari bersulang untuk anak kita yang baru, Indra Alamsyah" Pak Ivan juga ikut berujar, kami diruangan itu kini menikmati bir bersama.

Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

  • Copyright © 2016 Template By : San-San | Powered By : Blogger